BNN Bertekat Gulung Pemasok Narkoba di Kampung Ambon

BNN Bertekat Gulung Pemasok Narkoba di Kampung Ambon

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jumat, 08 Jun 2012 16:15 WIB
Jakarta - Kampung Ambon dikenal sebagai salah satu kawasan hitam narkoba di Ibukota. BNN bertekat menggulung pemasok narkoba ke perkampungan padat yang terletak di Cengkareng, Jakarta Barat, ini.

"Kita ada dua program untuk mengatasi narkoba di Kampung Ambon, pertama kami hantam suplayernya. Kalau kita hantam penyuplainya maka diharapkan peredaran di situ akan menurun," kata Kepala Badan Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN), Brigjen Benny Mamoto, di UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN di Lido, Bogor, Jumat (8/6/2012).

Benny mengatakan hal ini di sela-sela pemusnahan 1.412.476 butir ekstasi yang diselundupkan dari China ke Tanjung Priok, Jakarta Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benny mengatakan, masalah di Kampung Ambon harus dilihat secara menyeluruh. Peredaran narkoba di kawasan ini terkait dengan masalah kesejahteraan, lapangan kerja dan pendidikan.

"Ini semua harus ditangani secara bersama-sama. Kalau hanya menyasar ke narkobanya saja dengan razia dan nangkap itu tidak menyelesaikan masalah. Itu akan terulang," katanya.

Benny mengatakan, program kedua BNN terkait dengan masalah community development di kawasan Kampung Ambon. BNN akan mengadakan pelatihan anak-anak muda sehingga beralih ke hal positif dan legal.

"BNN memberi pelatihan, ada yang jadi petugas salon, bengkel komputer dan lain-lain, sehingga mereka tidak dibina oleh para bandar," katanya.

Benny mengatakan, BNN akan menindak tegas aparat yang mencoba membekingi peredaran narkoba di Kampung Ambon. Dia juga menepis adanya penjualan kembali barang bukti yang telah disita BNN ke Kampung Ambon.

"Kalau ada yang nakal, misalnya barang bukti disita, kemudian belum dilaporkan ke kantor, lalu diedarkan, kami akan tindak tegas. Tapi kita repot soal pencatutan nama, nama saya juga pernah dicatut kok," katanya.

Benny juga menjamin penghancuran barang bukti narkoba dilakukan secara transparan. Selesai pembakaran, kerak sisa hasil pembakaran diambil untuk diuji di laboraturium.

"Ada sindikat yang mencoba mengelabui petugas, kerak hasil pembakaran itu dibeli. Dan ini sudah kita tangkap dan tindak setahun lalu. Meskipun itu kecil, hasil sisa pembakaran itu ternyata masih laku," katanya.

(nal/nrl)


Berita Terkait