"Kalau hanya bicara tentang pemilu, kekuasaan, atau pilpres, semata-mata untuk itu, maka itu hanya sebuah pelampiasan syahwat politik belaka yang tidak bermanfaat bagi rakyat," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, usai menghadiri Peringatan 67 tahun hari lahir Pancasila di Hotel Kempinski Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2012).
Menurutnya, memang lumrah jika para pimpinan parpol bicara pilpres 2014, karena antena parpol adalah kekuasaan. Tetapi parpol jangan lupa bahwa di luar itu mereka harus bekerja untuk rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan menurut Din, kalau menggunakan hadits, jika ada orang yang ambisius terhadap jabatan, maka jangan berikan dia jabatan itu.
"Oleh karena itu, parpol perlu menjadi agen pembaharuan. Banyak masalah-malsah yang seharusnya ditangani parpol, sekarang keluar dari ranah politik menjadi limbah sosial," jelasnya.
Ia mencotohkan seperti judicial review terhadap undang-undang migas yang tengah diperjuangkannya. Menurutnya hal itu menjadi buah dari parpol yang sesungguhnya tidak berorientasi pada konstitusi karena undang-undang itu diyakini merugikan rakyat.
"Yang penting apa pun yang terjadi di 2014, bangsa indonesia jangan terpecah belah," pungkas Din.
(mad/mad)











































