Didik Nilai Ancaman Terhadap Relawannya Bentuk Peradaban Rendah

Didik Nilai Ancaman Terhadap Relawannya Bentuk Peradaban Rendah

- detikNews
Rabu, 06 Jun 2012 18:22 WIB
Jakarta - Tim sukses (timses) pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini berulang kali mengaku mendapat ancaman dari pihak-pihak tertentu. Cawagub DKI Didik J Rachbini menilai ancaman yang kerap diterima timsesnya merupakan bentuk peradaban yang rendah.

"Masalah ancaman di masa demokratis ini merupakan sebuah peradaban yang rendah dan tidak sopan santun," ujar Didik, usai diskusi publik di Universitas Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Rabu (6/6/2012).

Menurut Didik, tindakan ancaman yang diterima pihaknya merupakan tindak pidana. Meski begitu Didik mengatakan hingga kini pihaknya belum melaporkan hal tersebut ke polisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Praktek seperti ini pelakunya harus dihukum. Namun kita belum melakukan laporan kepada polisi," ucapnya.

Relawan dari pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini mengalami intimidasi saat menyebarkan poster jagoan mereka di daerah Rawa Badak, Jakarta Utara, Sabtu (2/6) lalu.

Berikut kejadiannya berdasarkan rilis yang diterima detikcom dari tim Hidayat-Didik, Minggu (3/6):

Relawan Hidayat-Didiek yang tengah memasang spanduk dan banner di daerah RW 07, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Sabtu (2/6) malam didatangi sejumlah oknum berambut cepak yang diduga menjadi beking seorang pengusaha besi tua di kawasan itu. Mereka meminta para relawan yang tengah memasang spanduk dan banner pasangan Hidayat-Didik itu untuk menurunkan semua spanduk dan banner yang sudah dipasang.

Alasan mereka, tidak ada izin dari RT/RW setempat. Namun, ketika dijawab bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan adanya izin dari RT/RW, para pria berambut cepak tersebut marah dan mengancam akan mematahkan kaki para relawan. Nyatanya, banner dan spanduk kandidat lain tidak pernah diusik dan pemasangannya tidak ada izin dari RT/RW setempat.

Lalu, relawan Hidayat-Didik kembali ke posko. Tapi ternyata sekelompok orang suruhan pengusaha besi bekas tersebut merasa tidak puas. Mereka mendatangi posko relawan yang juga rumah anggota DPRD DKI Jakarta dari PKS, Tubagus Arif. Atas perintah pengusaha besi tua yang ikut menyerbu posko relawan tersebut, mereka melepasi banner yang terpasang di tiang depan rumah Tubagus.

Sang pengusaha menantang dan mencengkram baju salah seorang relawan hingga bajunya sobek, juga mengangkat tangan hendak memukulnya. Namun, situasi dapat dikendalikan sehingga tidak sempat terjadi keributan. Tak berapa lama pengusaha dan para pembekingnya pun meninggalkan posko. Di perjalanan mereka mencopoti banner Hidayat-Didik.

Namun sang pengusaha yang dipanggil 'Si Bos' ini ternyata masih belum puas. Ia menyuruh seorang oknum TNI yang menjadi bekingnya untuk memanggil salah seorang relawan, Nurdiansyah. Dengan harapan persoalan bisa segera tuntas, Nurdiansyah dan sejumlah relawan mendatangi rumah 'Si Bos'. Dalam pertemuan, 'Si Bos' memaksa agar relawan Hidayat-Didik meminta maaf kepadanya, dan mengatakan, โ€œUntung tidak saya siram pake ini,โ€ seraya menunjukkan senjata api. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh pengurus RW, yang sejak kejadian lebih banyak diam ketimbang menengahi keributan.

Sedangkan, ketua tim advokasi Hidayat-Didik, Zainuddin Paru, menyatakan arogansi dan aksi premanisme seperti itu tidak bisa dibenarkan dan hanya akan mencederai demokrasi. Ia mengharapkan pilkada berlangsung dengan aman, tertib, jujur, dan adil. Paru menilai aksi yang dilakukan oleh pengusaha di Rawa Badak dan oknum TNI itu berlawanan dengan prinsip-prinsip demokrasi.

(riz/rmd)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads