"Dari bebagai evaluasi, faktor manusia merupakan 90% penyebab kecelakaan pesawat terbang, yaitu 50% oleh operator dan 40% dari penerbangnya sendiri. 10% sisanya baru disebabkan oleh gangguan teknis dan lingkungan," kata dr Herman Muljadi yang juga investigator KNKT.
Hal ini disampaikan Herman dalam acara diskusi Flight Safety: Human Factor in Aviation di Lakespra Saryanto, Jakarta, Selasa (5/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang disampaikan dr Soemardoko yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penerbangan Indonesia. Menurut dia pada waktu perang dunia I, 90 persen kecelakaan pesawat karena mengalami kekurangan oksigen.
"Kekurangan oksigen atau hipoksia. Yaitu kondisi berkurangnya oksigen karena penurunan tekanan pada ketinggian 18.000 kaki ke atas," kata Soemardoko.
Namun, teknologi penerbangan sampai saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mulai dari sistem navigasinya maupun peralatan pendukung. Semua instrumen penerbangan ini telah dirancang sedemikian rupa untuk menghindari error dalam penerbangan dan terjamin kualitasnya.
Dalam melakukan penerbangan, pilot mengandalkan instrumen dan penglihatannya. Saat berada pada ketinggian di atas 10.000 kaki, pilot lebih mengandalkan instrumen karena hanya bisa melihat awan. Sedangkan pada ketinggian di bawahnya bisa mengandalkan penglihatan untuk menghindari tabrakan dengan gunung atau benda-benda lain yang kasat mata.
(/)











































