"Ini karena ditutupi tiga faktor yang berkembang di partai, yaitu tradisi feodal, oligarkis dan transaksional," kata pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto kepada wartawan di Jakarta, Senin (4/6/2012).
Menurut Gun Gun, tradisi feodal cenderung meminimalisir kerja-kerja profesional yang seharusnya dilakukan partai dalam mencari calon-calon pemimpin. Padahal, proses regenerasi di tubuh partai adalah salah satu syarat dari konsistensi demokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi politik transaksional yang mewabah di tubuh partai saat ini, lanjut Gun Gun, telah menciptakan biaya politik melambung tinggi. Selain itu, politik transaksional telah memarjinalkan potensi-potensi calon pemimpin di luar tokoh yang ada saat ini.
"Hasrat politik yang kuat dan didorong oleh oligarki politik telah menghambat proses regenerasi calon pemimpin," ujarnya.
Seperti diketahui, sejumlah partai atau tokoh nasional mengusung atau diusung sebagai calon presiden pada Pemilu 2014, di antaranya Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Wiranto, Prabowo Subianto, Surya Paloh, dan Akbar Tandjung.
Gun Gun mengatakan, keputusan mendaur ulang tokoh-tokoh lama sebagai calon presiden menunjukkan bahwa Indonesia sebagai bangsa miskin calon pemimpin. Selain itu, partai dan tokoh yang masih berhasrat maju pada Pemilu 2014 lebih mengutamakan ambisi politik pribadi daripada menyiapkan pemimpin masa depan bangsa.
(zal/rmd)











































