Wakil Presiden Boediono menyebut lahirnya Pancasila bukanlah hasil karangan ataupun hasil meniru dari karya buku. Pancasila lahir dari pengalaman sejarah.
"Saya sadari bahwa pemikiran Bung Karno yang di tahun 1945 dirumuskan dengan nama 'Pancasila', adalah pemikiran yang tidak ditiru dari buku manapun dan bukan dikarang dari awang-awang," ujar Boediono.
Hal tersebut dikatakannya dalam Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung MPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (1/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan tetapi sejarah juga menunjukan betapa kuatnya daya tahan rakyat Indonesia, daya tahan rakyat yang bersatu," terangnya.
Menurut Boediono, Pancasila kini menjadi warisan bagi rakyat Indonesia. Pancasila adalah cita-cita untuk sebuah Indonesia yang kuat, yang dijalin dari perbedaan agama, etnis, suku, dan daerah.
"Sebuah jalinan yang tidak didominasi oleh salah satu unsurnya. Sebuah jalinan yang dirajut bersama-sama," kata Boediono.
Dengan Pancasila, Indonesia bisa bertahan. Dan terbukti pula, Indonesia yang seperti itu yang mampu mengatasi berbagai krisis politik dan krisis ekonomi di masa lampau.
"Semangat Pancasila selalu menjadi penyelamat. Tetapi itu tidak berarti kita menganggap Pancasila sebagai sesuatu yang sakral. Mensakralkan Pancasila justru akan menjauhkan Pancasila dari pengalaman hidup kita, orang-orang biasa, sehari-hari. Sebab Pancasila memang bukan wahyu yang turun dari langit," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Boediono bercerita, beberapa tahun yang lalu dirinya sempat mengunjungi
Ende, Flores, tempat pengasingan Soekarno. Boediono menggambarkan di tempat itulah Bung Karno sering duduk di sore hari, menghadap ke laut, merenung, membaca buku, dan menulis.
"Di bawah pohon sukun itulah Bung Karno berpikir mencari jalan ke arah Indonesia yang merdeka. Merdeka dari penjajahan, merdeka dari keterbelakangan. Indonesia yang merdeka dalam berpikir, bekerja dan bersuara," terangnya.
"Oleh karenanya, ketika Soekarno merumuskan Pancasila, sebenarnya Soekarno ingin merumuskan suatu keharusan yang lahir dari perkembangan sejarah," pungkas Boediono.
(tor/rmd)











































