"Untuk Cockpit Voice Recorder (CVR) yang dulu itu hasilnya baik. Jadi kami yakin yang ini juga masih baik," kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (1/6/2012). Jumpa pers dihadiri Kepala Basarnas dan perwakilan Sukhoi di Indonesia, PT Trimarga Rekatama.
Tatang mengatakan FDR ini dirancang untuk bisa menahan tekanan hingga 5G (Gravitasi) dan api hingga suhu 3.500 derajat Celcius. Untuk membongkar FDR ini membutuhkan waktu 3-4 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data-data tersebut, lanjut Tatang, akan dibuatkan tabulasi grafik dan kemudian animasinya. Dari situ akan dilakukan analisa. Untuk pengungkapan hasil analisa, minimal 12 bulan setelah kejadian.
"Analisa FDR ini tidak untuk memuaskan keinginantahuan publik. Kami melakukan analisa ini untuk mengambil pelajaran mengenai safety. Di dunia penerbangan ada peraturannya," ungkapnya.
Jika pengungkapan hasil analisa FDR kurang dari 12 bulan, KNKT khawatir dinilai tidak menghormati peraturan keselamatan.
"Dan ada kecurigaan bahwa KNKT bekerja di bawah tekanan. Kami tidak mau seperti itu," ucapnya.
(/)










































