Seperti salah satu pembuat pelat nomor, Agan (bukan nama sebenarnya, red) yang ditemui detikcom di kiosnya, Rabu (30/5/2012) ini. Agan mengatakan pesanan untuk membuat pelat nomor dinas TNI itu terbilang sering.
"TNI paling sering pesan. Mungkin nggak ada tukangnya. Mungkin juga mereka punya tapi lambat. Atau jatahnya ada tapi mungkin penuh," kata Agan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kendaraan sudah pada tahu lah kendaraan pejabat itu. Kelasnya sudah tahu lah. Tapi sekali dua kali saya pernah lihat sedan pasang di sini," tutur Agan.
Namun Agan enggan mengatakan berapa rata-rata pesanan membuat pelat nomor TNI itu per bulan. Agan hanya menggambarkan secara umum bahwa dirinya rata-rata per hari menerima 2-5 pesanan membuat pelat nomor. Pesanan ini dikerjakannya selama rata-rata 2 hari saja.
Untuk pelat sipil, dihargai Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Sedangkan untuk pelat dinas TNI/Polri antara Rp 600 ribu-Rp 2,5 juta. Dari harga itu, omset yang diraup Agan berkisar Rp 400 ribu-Rp 500 ribu sehari. Keuntungannya, berkisar antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per hari.
"Setiap bulan standar semua, jadi nggak ada musimnya. Paluing orderan 2-5 orderan per hari kalau dirata-ratakan. Yang (pesan pelat) TNI/Polri nggak tentu," jelas Agan yang sudah 7 tahun memiliki usaha pelat nomor ini.
(nwk/gah)










































