Massa kedua desa menggunakan panah, tombak, parang, senjata api rakitan, dan senapan angin. Mereka berkejaran di ladang warga, di lembah-lembah di sekitar lereng perbukitan di sebelah barat desa tersebut.
Aparat kepolisian terpaksa menembakkan gas air mata untuk menghalau warga. Terdengar tembakan peringatan berkali-kali. Namun warga tetap saja terlibat baku hantam. Seorang polisi bahkan
dikejar dan menjadi sasaran pelemparan batu massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selasa (29/5/2012) kemarin, warga kedua desa ini terlibat bentrokan. Saat itu, bentrokan berawal saat sebuah rumah di Desa Binangga dilempari dengan batu. Tidak terima dengan pelemparan rumah
tersebut, akhirnya warga kedua desa terlibat bentrokan. Dua warga Binangga terluka. Mereka adalah Faisal dan Haerul. Keduanya terkena lemparan batu di pelipis dan kepala. Selain warga, seorang
anggota polisi juga terluka di bagian lutut terkena lemparan batu.
Kepala Polres Donggala AKBP Dicky Aryanto menyatakan akan bertindak tegas bila warga tidak bisa lagi dkendalikan. Ia meminta warga untuk bisa menahan diri.
Untuk diketahui warga di kedua kelurahan banyak yang memiliki hubungan saudara. Mereka merupakan keluarga besar dari rumpun Suku Kaili berdialek Ledo. Suku Kaili adalah suku terbesar di Sulawesi Tengah.
(try/try)











































