"Kami 11 orang anggota Komisi X datang ke proyek Hambalang. Pimpinan Panja Pak Mahyudin menyusul belakangan. Di pintu gerbang, mobil polisi boleh masuk, bus anggota DPR tidak boleh," kata anggota Komisi X DPR dari PDIP, Dedi Gumelar, kepada detikcom, Rabu (30/5/2012).
Miing, demikian dia biasa disapa, kemudian turun dari bus. Dia meminta petugas mempersilakan rombongan DPR masuk.
"Saya turun dari bus. Saya bilang kami anggota Komisi X DPR mau meninjau longsor di Proyek Hambalang. Kita akhirnya boleh masuk, tapi wartawan tidak boleh masuk," kisah Miing.
Miing sekali lagi berargumen panjang, mengingat proyek Hambalang selama ini tertutup dari media sejak proyek ini ditangani KPK.
"Saya jelaskan harusnya dibuka, ini sudah masuk ranah publik, tidak ada alasan lagi untuk menutup-nutupi. Kami minta teman-teman wartawan mendampingi kami. Ya akhirnya semua boleh masuk," cerita Miing.
Seperti diketahui proses pembangunan sarana olahraga ini dihentikan sejak Maret 2012 lalu. Sebab, pergerakan tanah di bawah bangunan yang sedang dibangun terasa sekali, apalagi jika hujan lebat. Tercatat ada tiga titik yang tanahnya mengalami pergerakan.
"Waktu bulan Maret terasa sekali ketika hujan lebat, di 3 titik tanahnya bergerak. Konstruksinya masih tiang pancang dan beton, memang akibatnya ada yang pecah dan ada yang ambles, turun ke bawah," kata Sekretaris Kemenpora, Yuli Mumpuni, kepada detikcom.
Sementara dalam penyelidikan dugaan korupsi proyek Hambalang senilai Rp1,3 triliun KPK telah memeriksa sejumlah orang di antaranya Menpora Andi Malarangeng, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto. Anggota Komisi II DPR asal Fraksi Partai Demokrat Ignatius Mulyono, pejabat PT Adhi Karya, Mahfud Suroso, termasuk istri Ketum Demokrat Anas Urbaningrum, Athiyyah Laila.
(van/nrl)











































