Hendardji datang ke 'markas' nongkrong wartawan di Jakarta Timur, tepatnya di Warung Soto Betawi Kak Lia yang terdapat di dalam lingkungan Polsek Jatinegara, Jalan Otto Iskandar Dinata, Selasa (29/5/2012) sekitar pukul 12.30 WIB.
Setelah bersalaman dengan semua wartawan, Hendardji yang ditemani 2 orang tim sukses dan 2 ajudannya langsung duduk di bangku-bangku plastik. Warung soto sederhana itu tidak luas, alhasil wartawan harus umpel-umpelan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian sambil menunggu penjual meracik soto, Hendardji berbincang-bincang sambil menjawab pertanyaan wartawan. Salah satunya tentang narkoba.
"Pendapat Bapak tentang rencana relokasi Kampung Ambon bagaimana?" tanya wartawan.
"Kita akan benahi agar tidak ada sekat-sekat di daerah, inklusif, supaya kejahatan tidak berkembang," jawab Hendardji.
Dia juga mengkritik BNN. "Pemberdayaan BNN itu cuma kosmetik sehingga terlihat seperti polesan agar terlihat cantik," tukasnya.
Hendardji menambahkan, narkoba banyak bersarang di kawasan kumuh dan miskin sehingga daerah seperti ini harus dibenahi agar hilang.
"Narkotika itu kan bersarang di kawasan kumuh. Kekumuhan dan kemiskinan harus diperangi. Dan itu merupakan identik dari adanya narkoba. Sambil memerangi kekumuhan dan kemiskinan, atau disingkat dengan kumis, dengan itu kita akan bisa memberantasa kantong-kantong narkoba yang di mana menghasilkan uang secara singkat," jelas adik mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji ini.
Dari 267 kelurahan yang ada di Jakarta, lanjutnya, selalu ada kantong-kantong 'kumis' ini. Masyarakat kelas bawah yang masuk ke sektor informal, tidak pernah diperhatikan.
"Karena itu seharusnya pemerintah membangun sektor informal. Misal bantaran kali. Seharusnya dibenahi sehinga bisa menikmati keindahan sungai itu. Kalau saya jadi gubernur, saya akan sterilkan itu. Rata-rata gelandangan itu meski tidak semuanya gelandangan, berada di kawasan kumuh. Mereka ini harus kita rehab. Karena itu mereka akan kita tempatkan di tempat sektor informal yang akan kita bangun," papar Hendardji.
Dia tak ambil pusing meski berbagai survei mengenai tingkat keterpilihannya selalu berada di posisi jongkok.
"Dari persentase saya nggak bisa menilai, yang penting saya optimistis dan pasti menang, saya yakin itu. Sebenarnya kan ini permainan media. Saya tidak peduli. Yang penting saya terus merapat ke masyarakat," tuturnya.
Perkara 'kumis' sempat jadi ajang sindir pekan lalu. Hendardji menyebut," Jakarta jangan berkumis, berantakan, kumuh dan miskin."
Statemen ini dibalas Fauzi Bowo yang terkenal dengan kumis tebalnya. "Kumis ini bisa jadi ikon kuat jadi gubernur untuk membasmi kemiskinan dan kekumuhan itu," ujarnya.
(nwk/nrl)











































