Aksi pertama diikuti puluhan orang dari Gema Pembebasan, dari Taman Parkir Abu Bakar Ali sebelah kawasan Malioboro. Mereka longmarch menuju Gedung Agung. Satu buah mobil bak terbuka berada di depan barisan untuk panggung orasi dan beberapa sepeda mengiringi di belakang massa aksi. Massa dikawal aparat aparat Polresta Yogyakarta.
Sedangkan aksi kedua menamakan diri Sekber Keistimewaan (Sekber) DIY. Mereka mengawali aksinya dari halaman gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Seluruh peserta aksi mengenakan pakaian adat Jawa dan membawa satu ekor kuda yang dinaiki oleh salah seorang peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sistem kapitalisme, sekulerisme dan neoliberal yang dipakai saat ini terbukti gagal, karena itu harus diganti," kata Dimas Gusti Randa dalam orasinya.
Sementara itu Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra kepada wartawan di halaman DPRD DIY mengatakan pihaknya menuntut pemerintahan SBY untuk tidak melawan kehendak rakyat Yogyakarta. Pemerintah terus memaksakan agar ada pemilihan gubernur dan wakil gubernur DIY.
"Itu sama saja pemerintahan SBY telah melawan sejarah. Rakyat ingin penetapan," ungkap Hasto.
Meski sekitar depan pintu pagar Gedung Agung Yogyakarta telah dijaga ratusan polisi. Massa aksi tetap bisa melintas di Jl Ahmad Yani depan Gedung Agung. Namun massa tidak diperbolehkan berhenti dan terus diminta berjalan melanjutkan aksinya. Pejalan kaki yang akan berjalan di trotoar depan Gedung Agung juga dilarang dan diminta menyeberang ke sisi timur. Hingga aksi usai, situasi kawasan Gedung Agung tetap aman.
(bgs/try)











































