Keempat direksi yang seharusnya ikut naik dalam joyflight yaitu Dirut PT DI Budi Santoso, Direktur Aerostruktur Andi Alisjahbana, Direktur Aircraft Services Budi Wuraskito dan Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Dita Ardoni Jafri.
"Kami berempat diundang mewakili direksi, sementara almarhum Kornel adalah pimpinan proyek kerjasama dengan Sukhoi. Jadi awalnya ada 5 orang yang akan naik," cerita Dirut PT DI Budi Santoso saat ditemui usai mengikuti acara penghormatan dan mengucapkan belasungkawa pada keluarga Kornel di Auditorium Gedung Nusantara I PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Rabu (23/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Andi Alisjahbana, yang sebelumnya mengikuti rapat dengan Kementerian Perhubungan segera berangkat ke Lanud Halim Perdana Kusuma. "Pak Andi telat 5 menit. Jadi tidak bisa terbang," terang Budi. Andi Alisjahbana merupakan suami Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.
Saat itu Budi tak mengetahui, siapa saja akhirnya naik pesawat. Hingga tak lama, Budi pun mendapat kabar dari Andi yang masih berada di Lanud Halim Perdana Kusuma bahwa pesawat dinyatakan hilang.
"Saya langsung kontak teman-teman yang seharusnya naik. Budi dan Doni ternyata di Bandung, mereka memang tak jadi ikut. Menelepon Kornel, tak bisa dihubungi," kisahnya.
Budi pun mengaku sangat kehilangan dengan kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya Kornel. Sebagai pimpinan proyek kerjasama dengan Sukhoi, Kornel begitu bersemangat untuk melihat dan naik ke pesawat yang rencananya komponen ekor pesawatnya akan dibuat oleh PT DI.
"Dia itu yang paling depan untuk kerjasama ini, makanya dia ingin melihat seperti apa pesawat yang komponennya akan kita (PT DI) buat itu," katanya.
Meski begitu, terselip rasa syukur bahwa empat direksi lainnya tak jadi naik pesawat naas tersebut. Karena jika tidak, akan ada kehilangan SDM lebih banyak lagi di PT DI. "Kalau semua jadi naik. Ya kehilangannya lebih besar lagi. Ini saja sudah sangat sedih dan kehilangan," tutup Budi.
(tya/asy)











































