Paul Akui Sebar BBM Kebakaran di Muara Karang, Ini Versi Aslinya

Paul Akui Sebar BBM Kebakaran di Muara Karang, Ini Versi Aslinya

Dhurandhara - detikNews
Selasa, 22 Mei 2012 18:26 WIB
Jakarta - Kebakaran di Muara Karang, Jakarta Utara, Rabu (16/5) silam menewaskan 3 kakak beradik. Tersiar berita bahwa seseorang bernama Paulinus, ketua RT setempat menyebar kabar bahwa tim pemadam kebakaran datang tidak membawa air serta gagalnya negosiasi harga dengan kedua belah pihak.

Paulinus Tjoeng Riang (43), saat dikonfirmasi oleh detikcom, Selasa (22/5/2012) mengakui dirinya menyebarkan pesan lewat grup di BlackBerry Messenger (BBM) alias broadcast. Namun tulisan aslinya tidak seperti yang tersebar ke mana-mana. Menurut dia, ada orang yang sengaja menambahkan nama dan pesan.

Berikut ini pesan yang diterima detikcom dari pesan yang beredar di BBM:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebakaran. Terjadi di muarakarang penjaringan yg menewaskan 3 anak,ini juga di sebabkan karena mobil pemadan terlambat datang karena mereaka minta negosiasi harga sedangkan jarak dari t4 kebakaran ke tempat mobil pemadan cuma berjarak sekitar 200m dan setelah sampai pun mobil kosong tidak membawa air (tolong di forward ke semua contact kalian biar sampai ke presiden)hari gini masih ada koruuuuuuuupsi TOLONG SEBARKAN BERITA INI"

Lalu bagaimana tulisan asli Paul? Berikut ini pesan asli yang dikirim Paul:

"Merenung nasib tragis 3 anak kecil korban kebakaran ruko..knologi kejadian: kira2 jam 10 malam.listriik mati sesaat.selang 5 menit tetangga seorang ibu teriak2 ada kebakaran.saat beberapa warga dan saya kelokasi api sudah besar,asap hitam mengepul pekat,tdk lama 3 anak kecil memelas minta tolong sambil memegang teralis yg tertutup rapat.menerobos masuk dari lt dasar tdk mungkin.pilihan naik ke lt 2 dari depan.suara 3 anak kecil makin merintih kesakitan karena panas.sang ibu masih dapat bertemu dgn anaknya lewat ruko sebelah.mereka bepegang hanya dpt berpegang tangan memohon pertolongan dgn ketakutan menyebut Mama...mama...segala upaya mendobrak teralis sia2.saat itu blom datang mobil pemadam.mencoba manjat ke lt 3 pun teralis terkunci.waktu makin sempit.api lt 2 makin besar,besi teralis semakin panas.teriakan 3 anak keci.akhirnya kami pasrah lidah2 api menjulur keluar teralis.menyaksikan dgn kejadian api membakar tubuh 3 anak yg satu persatu tumbang.disaksikan para warga dan seorang ibu anak tersebut tewas mengenaskan.pemadam datang setelah 3 anak itu terpanggang hidup2,"

Dalam pesan asli yang ditulis Paul memang tidak terbaca tudingan miring kepada pihak Damkar seperti apa yang tersebar saat ini. Ia juga mengaku telah mencetak isi pesan aslinya tersebut sebagai bukti jika kelak ia dituntut.

Menanggapi isi broadcast tersebut, Paul berusaha menyampaikan fakta di lapangan yang terjadi. Tim Damkar saat itu belum datang sampai ketiga korban tersebut meninggal dunia.

"Tapi benar Pak, waktu saya mencoba menyelamatkan 3 anak, pemadam belum datang. Setelah mereka tumbang 3 (Damkar baru datang), itulah pernyataan saya. Tidak lama kemudian, itu bisa berarti semenit, bisa dua menit baru pemadam nguing-nguing datang," terang Paul.

Kepala Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta, Paimin Napitupulu, saat jumpa pers di Restoran Bundo Sati, Jl Ridwan Rais, Jakarta, Senin (21/5) kemarin mengatakan petugas datang ke lokasi setelah 12 menit mendapat laporan dari warga. Diketahui, kebakaran tersebut terjadi pada pukul 21.45 WIB.

"Kita dapat laporan pukul 22.00 WIB dan 12 menit kemudian kita datang, dan api sudah besar," ujarnya.

Dikatakan Paimin, besarnya kebakaran akibat ruko tersebut menyimpan bahan yang mudah terbakar, seperti obat nyamuk hingga hair spray. Karena berembus kabar miring yang antara lain tentang negosiasi harga dengan petugas Damkar saat melapor, Ketua RT setempat bernama Paul yang ditengarai mem-broadcast pesan bisa memberikan klarifikasi hingga Rabu (23/5) besok.

Menurut data pihak Damkar, kebakaran tersebut menewaskan Ivan (10), Melina (12), dan Melisa (14). Melina dan Ivan diketahui tewas di lokasi kebakaran. Sedangkan Melisa meninggal di RS Atmajaya, Pluit.

(/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini