7.563 Ruang Kelas SDN di Riau Tak Layak Huni

7.563 Ruang Kelas SDN di Riau Tak Layak Huni

- detikNews
Senin, 16 Agu 2004 15:00 WIB
Pekanbaru - Sekitar 50 persen bangunan sekolah dasar negeri di Provinsi Riau telah berusia di atas 30 tahun. Akibatnya, sebanyak 7.563 ruang kelas SD itu dilaporkan rusak parah dan tidak layak huni.Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Riau, Tengku Daharil, mengungkapkan hal itu kepada detikcom, Senin (16/8/2004) di ruang kerjanya Jl Cut Nyak Dien, Pekanbaru. Menurut Tengku, dengan banyaknya ruang kelas yang tidak layak huni karena termakan usia, untuk memperbaikinya diperlukan dana sekitar Rp 300 miliar.Bangunan sekolah yang telah berusia di atas 30 tahun itu kini tidak layak huni dan cenderung membahayakan bagi murid-murid yang melakukan aktivitas belajarnya. "Karena itu kita minta perhatian serius kepada pemerintah setempat untuk segera memperbaikinya," kata Tengku.Menurut Tengku, saat ini di Provinsi Riau terdapat 2.521 bangunan sekolah dasar negeri. Dari jumlah sekolah dasar itu, seluruh ruang kelas berjumlah 15.126. Sedangkan ruang kelas yang mengalami rusak parah itu mencapai 7.563.Laporan yang diterima Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Riau, daerah yang paling parah mengalami kerusakan adalah ruang kelas berada di Kabupaten Indragiri Hilir. Hal itu dimungkinkan karena sejumlah sekolah sering terkena banjir."Kabupaten Indragiri Hilir merupakan daerah paling parah. Sebab, kondisi tanah di sana sebagian besar daerah berawa dan sering dilanda banjir," paparnya.Namun demikinan, secara umum, kata Tengku, ruang kelas yang rusak itu akibat dimakan usia yang lebih dari 30 tahun. Rata-rata sekolah dasar itu dibangun pada tahun 1970 melalui program Inpres. "Kini kondisi sekolah itu sudah tidak layak huni," kata Tengku.Untuk memperbaiki sekolah yang rusak itu, menurut Dahril, biaya yang diperlukan untuk membangun satu unit ruang kelas minimal sebesar Rp 50 juta. Berdasarkan itu, untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak tadi dibutuhkan dana keseluruhan sebesar Rp 300 miliar."Kami sendiri tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan dana perbaikan tersebut. Saat ini kami baru menganggarkan dana sebesar Rp 75 miliar untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak tadi," katanya. (nrl/)


Berita Terkait