Asep (44) salah satu petugas penjaga situs bercerita kepada detikcom di sela rutinitas pembersihan sekitar situs, Selasa (22/5/2012). Dia mengaku saat menyapu bagian barat situs (bagian kanan ketika kita menaiki puncak situs), dia menemukan pecahan gerabah dan tembikar.
"Lalu tim menanyakan apakah saya menemukan tembikar atau gerabah?," kata Asep menirukan pertanyaan salah satu tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bercerita, saat Gunung Galunggung meletus tahun 1983 penelitian sempat terhenti dan berlanjut tahun 1984 hingga 1985. "Makanya saya tahu mungkin pecahan gerabah itu diperlukan oleh tim peneliti," tutur Asep.
Di tempat sama, petugas pemandu sekaligus penjaga situs, Dadi (50) mengatakan, menyatakan memang Asep pernah menyerahkan pecahan gerabah kepada arkeolog. Tapi belum tentu itu berasal dari sisa kehidupan purbakala.
"Karena dulu banyaknya yang ziarah ke mari bawa kendi dan memecahkannya," ujar Dadi.
Eskavasi Berhenti
Guna menguak misteri Situs Megalitik Gunung Padang, tim Arkeolog berupaya melakukan penggalian di sekitar situs. Pengamatan detikcom terdapat 6 titik bekas eskavasi berbentuk kotak dan masing-masing berukuran 1,5m x 1,5m.
"Penggalian mulai Rabu (17/5) dan ditargetkan sampai Minggu (20/5). Tapi ternyata hanya sampai Jumat," kata Dadi.
Dadi mengatakan, percepatan penggalian dilakukan karena adanya penolakan dari elemen warga terhadap upaya penggalian itu. "Masih belum ada yang menolak dan menerima penggalian," katanya.
Sebelumnya oleh Ali Akbar, kepala tim yang menjalankan arkeolog, mengatakan timnya baru melakukan penggalian di kedalaman 30 centimeter. Timnya telah menemukan tembikar, jejak karbon dan gerabah yang saat ini diteliti di laboratorium arkeologi untu diketahui prakiraan usia kehidupan di situs megalitik tersebut.
(ahy/lh)











































