Kabut Asap Serang Sumbar

Kabut Asap Serang Sumbar

- detikNews
Senin, 16 Agu 2004 13:45 WIB
Padang - Meski tidak terlalu parah, kabut asap kini menyerang sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar). Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumbar menyatakan, kabut asap tersebut masih dalam batas normal dan sumbernya berasal dari luar wilayah Sumbar."Kita terus melakukan pengamatan intensif. Berdasarkan hasil pengamatan kita, kabut asap tersebut diduga kuat berasal dari daerah Riau atau Jambi dan ketebalannya belum berpengaruh terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat," ujar Kepala Bapedalda Sumbar Isrin Agus, ketika ditemui detikcom di gedung DPRD Sumbar, Jl. Khatib Sulaiman Padang, Senin (16/8/2004).Berdasarkan pantauan detikcom di Kota Padang, kabut asap memang cukup mengganggu pandangan dan membuat sejumlah warga resah. Apalagi sejak beberapa minggu terakhir tidak turun hujan sehingga membuat warga semakin gerah."Sumbar sepertinya sedang kacau-kacaunya, ya? Sudahlah berkabut, panas, listrik juga sering mati. Rasanya nggak karuan," ujar Sri Maryeni Darnis (51), warga sebuah komplek perumahan di kawasan Lubuk Buaya Padang.Bukan KirimanManajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar Heri Prasetyo ketika ditemui detikcom di kantornya, Jl. Beringin No. 43 Padang, Senin (16/8/2004) menyangkal bahwa kabut asap yang kini menyerang sejumlah wilayah di Sumbar sebagai kiriman dari daerah lain."Sumbar memiliki sejumlah daerah yang perlu diwaspadai karena rawan pembakaran hutan untuk kepentingan pengusaha, di antaranya daerah Sawahlunto Sijunjung dan Pasaman. Mungkin saja ada hot spot (titik api) di sana," ujar Heri.Dikatakan Heri, tidak mungkin kabut asap tersebut berasal dari daerah lain, seperti Jambi dan Riau. Di samping jaraknya yang cukup jauh, juga banyak terdapat bukit-bukit yang membatasi antara wilayah Sumbar dengan kedua daerah tersebut."Dalam kondisi seperti ini, kita berharap Pemda Sumbar lebih tegas dalam menangani persoalan lingkungan di daerah ini. Di samping itu, Bapedalda juga harus lebih proaktif," demikian Heri Prasetyo. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads