Paku Buwono XIII Tedjowulan dan Paku Buwono XIII Hangabehi datang ke kediaman Mooryati di Jl Ki Mangunsarkoro sekitar pukul 14.45 WIB, Minggu (20/5/2012). Mereka datang menggunakan dua mobil yang berbeda.
Tedjowulan terlihat mengenakan jas hitam dengan kemeja kotak-kotak, sedangkan Hangabehi mengenakan jas hitam dengan kaos berkerah warna merah. Mereka melangkah masuk ke kediaman Mooryati secara bersamaan. Keduanya kemudian menyalami tamu undangan yang sudah berdatangan di rumah bos Mustika Ratu yang dipenuhi ornamen Jawa ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mooryati menyatakan, dwitunggal kepemimpinan keraton Surakarta ini terwujud dengan ditandatanganinya maklumat bersama antara Paku Buwono XIII Tedjowulan dan Paku Buwono XIII Hangabehi.
"Dengan kesepakatan dwitunggal kepemimpinan keraton akan menjadi lebih kuat dan berwibawa. Maklumat bersama kesepakatan kepemimpinan telah ditandatangani 16 Mei 2012 disaksikan Walikota Surakarta Joko Widodo," katanya.
Konflik internal Keraton Surakarta terjadi pasca Paku Buwono XII mangkat pada tahun 2004, tanpa meninggalkan permaisuri dan putra mahkota. Sebagian pihak mendukung pengangkatan putra tertua, KGPH Hangabehi sebagai pengganti, sedangkan sebagian besar lainnya mendukung putra kelima, KGPH Tedjowulan, sebagai pengganti. Akhirnya selama lebih dari tujuh tahun terdapat dua raja di salah satu kerajaan penerus dinasti Mataram tersebut.
Pada 10 Mei 2012, Tedjowulan - seorang bangsawan berpangkat kolonel TNI AD - menyatakan bersedia melepas gelarnya dengan alasan demi kebaikan keraton dan mendukung upaya pemerintah merukunkan kedua pihak. Dia akan bergabung pada kakaknya, Paku Buwono XIII Hangabehi untuk bersama-sama mengelola keraton sebagai pusat kebudayaan.
(nal/nrl)











































