Operasi SAR dilakukan setelah adanya informasi hilang kontaknya Sukhoi SuperJet 100 pada Rabu (9/5). "Sesuai data radar Cengkareng, posisi terakhir di sekitar Gunung Salak. Basarnas kemudian memberangkatkan 2 helikopter untuk pencarian. Karena cuaca 2, helikopter tersebut kembali," terang Kepala Basarnas, Marsdya Daryatmo, dalam pernyataannya di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Jumat (18/5/2012).
Basarnas kemudian bekerja sama dengan TNI, Polwil Bogor dan Brimob ke lokasi. Pada Kamis (10/5) pesawat Super Puma dan Hercules menemukan titik lokasi pesawat Sukhoi SuperJet 100.Β
Mengingat sulitnya posisi pesawat baru pada Jumat (11/5) Tim SAR melalui jalur darat bisa mencapai lokasi. Sejak saat itu dilaksanakan evakuasi. Sejumlah kantong jenazah diangkut dari lokasi kecelakaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minggu 13 Mei 2012 telah dievakuasi 5 kantong jenazah.
Senin 14 Mei 2012, Basarnas mengevakuasi 3 kantong jenazah.
Selasa 15 Mei 2012, 4 kantong jenazah dievakuasi dari lokasi.
Rabu 16 Mei 2012 Basarnas mengangkut 1 kantong jenzah.
Kamis 17 Mei 2012 telah dievakuasi 5 kantong jenazah. "Sebetulnya 9 tapi untuk mempermudah jadi 5 kantong," ucap Daryatmo.
Sebenarnya, Selasa 15 Mei lalu adalah hari ketujuh evakuasi. Sesuai peraturan pemerintah, operasi SAR yang berlangsung 7 hari dapat dihentikan. Namun karena masih banyak korban yang harus dievakuasi, operasi tetap dilanjutkan.
"Dan dilakukan penyisiran dengan penggalian dan pemindahan puing pesawat. Pada hari ini adalah hari kesepuluh operasi SAR, sesuai hasil tidak ditemukan tanda-tanda adanya korban, oleh karena itu proses evakuasi hari ini dihentikan," tambah Daryatmo.
(/asp)











































