Aksi sedikitnya 30 aktivis HMI MPO Mataram, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menolak kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berujung bentrok. Mahasiswa dan polisi terlibat baku pukul. Tiga mahasiswa ditangkap.
Pantauan detikcom, Jumat (18/5/2012), semula aksi mahasiswa berjalan damai. Polisi menahan massa aksi radius 1 km dari pusat kegiatan Presiden SBY yang hendak shalat Jumat di Masjid Raya Attaqwa Mataram.
Tertahan polisi, massa aksi menggelar orasi bergantian. Massa aksi menolak kedatangan Presiden SBY karena bagi mereka Presiden SBY adalah presiden yang mengobral izin pertambangan pada perusahaan asing, tak terkecuali izin eksploitasi tambang di NTB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak berselang lama, polisi dan mahasiswa mulai tidak bisa menahan diri. Bentrok tak terelakkan. Polisi terlibat baku hantam. Polisi menghujani mahasiswa dengan pukulan dan tendangan. Mahasiswa membalas dengan hal serupa. Aksi terjadi persis di depan MAN 2 Mataram di Jalan Pendidikan, tak jauh dari Masjid Raya Attaqwa.
Saat bentrok terjadi, Presiden SBY masih di pendopo Gubernur NTB, tempat dia akan menginap dan berkegiatan, 1,5 kilometer arah timur masjid raya.
Tiga mahasiswa ditangkap saat bentrokan, salah seorang diantaranya adalah koordinator aksi. Polisi pada akhirnya berhasil membubarkan paksa massa aksi.
Usai bentrok, mahasiswa berniat shalat Jumat, di lokasi Presiden SBY menunaikan shalat Jumat. Diantara massa aksi ada yang mulai mengeluarkan perlengkapan shalat.
Namun polisi tak ingin kecolongan. Mahasiswa yang menggelar aksi tak diberi kesempatan shalat Jumat di masjid raya. Polisi menggiring mereka shalat Jumat di masjid lain.
Presiden SBY kunjungan kerja sehari di Mataram. Dalam kunjungan kerja ini, Presiden SBY didampingi 18 menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Presiden akan bermalam di Mataram, dan menurut rencana Sabtu pagi akan bertolak untuk kunjungan kenegaraan ke Timor Leste.
Selama di Mataram, Presiden SBY memimpin rapat evaluasi program MP3EI koridor V wilayah Bali, NTB dan NTT. Koridor ini akan dijadikan pintu gerbang pariwisata nasional dan penyangga pangan. Rapat evaluasi itu juga dihadiri Gubernur NTB, NTT dan Bali. Namun rapat digelar tertutup.
(asp/asp)











































