Hal itu disampaikan anggota timTeknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Dr. Mohamad Djaeni, M.Eng seusai sosialisasi pembuatan dan penggunaan biogas untuk skala rumahtangga dan usaha kecil menengah (UKM) di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Pemalang ke arah Purwokerto.
Menurut Dr. Djaeni, kegiatan ini dilakukan bersama oleh Dinas ESDM Jateng bersama Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Hivos Semarang untuk bidang bahan bakar ramah lingkungan dan Bionat Boyolali untuk jasa konsultasi dan konstruksi biodigester biogas.
"Lingkungan peternakan yang berkembang, daerah hijau dan kaya pertanian, serta jauh dari pusat kota, menjadikan daerah ini pilihan tepat bagi pengembangan bahan bakar alternatif," ujar Dr. Djaeni, lulusan Wageningen University, Belanda, kepada detikcom, Rabu (16/5/2012).
Dari Bionat Boyolali yang diwakili Junaedi menyajikan desain konstruksi fixed dome biodigester, serta pengalamannya selama ini terutama dalam perawatan.Desain biogas harus jelas kapasitas, sepesifikasi dan penggunaannya sehingga benar-benar berfungsi.
Junaedi jugamenjelaskan cara perawatannya agarbiodigester terus berfungsi sebagai penyedia biogas dengan bahan baku kotoran ternak atau limbah pertanian dan bahan makanan seperti limbah tepung tapioka dan tahu.
Sementara itu dari Hivos yang diwakili Afidz mensosialisasikan program langit biru untuk membangun biodigester bersubsidi hasil kerjasama dengan Kerajaan Belanda. Sejumlah alat yang telah dibuat juga dipresentasikan sebagai contoh, antara lain untuk lampu, kompor, dan sebagainya.
Teknik Kimia Undip yang diwakili oleh Ir. Hargono MT dan Dr. Mohamad Djaeni, M.Eng menyampaikan paparan mengenai biogas untuk rumah tangga, genset, dan usaha kecil menengah (UKM).
Dr. Djaeni, yang berasal dari Kebumen, dengan dialek lokal mempresentasikan program riset pemurnian biogas, demonstrasi unit untuk pelatihan dan keperluan pendidikan hasil kerjasama CASINDO dengan TU Eindhoven, serta contoh aplikasi yang telah berjalan.
Saat ini telah banyak aspirasi yang diajukan antara lain usulan dari Ratno, salah satu lurah di Kecamatan Belik, agar Undip memberikan kursus gratis bagaimana memproduksi biogas untuk para pemuda Karang Taruna.
Sesuai permintaan salah seorang peserta, setelah rapat juga diadakan kunjungan ke salah satu warga yaitu Sobirin, pemilik 8 ekor sapi, yang mengharapkan agar biogas dapat diterapkan di rumahnya.
"Kesimpulannya, energi alternatif pengganti kelangkaan BBM memang sangat diperlukan baik untuk rumah tangga, UKM, maupun sektor lebih luas," pungkas Dr. Djaeni. (es/es)











































