Ini merupakan pagelaran perdana di Madagaskar, sebagai bagian dari diplomasi total, khususnya untuk perdagangan, pariwisata, investasi dan kebudayaan, demikian keterangan pers Pelaksana Fungsi Pensosbud Hanggorono Nurcahyo kepada detikcom, Selasa (15/5/2012).
Disebutkan, pagelaran Wayang Punakawan Nusantara-Madagaskar (WPNM) oleh KBRI Antananarivo tersebut adalah kreasi Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha Tetap (KUTAP) RI Artanto S. Wargadinata, dilaksanakan langsung oleh KUTAP RI dibantu sejumlah staf.
Selama sekitar satu jam, pagelaran yang berlangsung di Wisma Indonesia (12/5/2012) disaksikan oleh sekitar 125 orang penonton, terdiri dari Ikatan Alumni Indonesia (IAI) yakni warga setempat yang pernah mengikuti pendidikan atau pelatihan di Indonesia, seperti Kerjasama Negara Berkembang, Dharmasiswa, Lemhanas dan Sesko TNI, juga masyarakat Indonesia yang bermukim di Madagaskar.
Menggunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia, pagelaran juga diselingi dengan bahasa Inggris, Malagasy, Perancis, Arab, Hindi dan Italia serta beberapa dialog dengan bahasa daerah yang banyak bersentuhan dengan kebudayaan dan bahasa Malagasy antara lain Dayak Manyaan, Banjar, Batak Toba, Palembang, Jawa dan Sunda.
Selama pagelaran terdapat sesi khusus dialog interaktif antara wakil penonton dengan tokoh budayawan Emha Ainun Najib tentang hubungan bilateral Indonesia-Madagaskar dan prospeknya dilihat dari kacamata budaya sebagaimana tergambar dari berbagai karya sastra Emha.
Dua wakil penonton tersebut adalah Romo Bono dan alumni Sesko TNI Jenderal Rakotomanana dari Gendarmerie Madagaskar. Romo Bono saat ini sedang mengadakan penelitian mengikuti hasil penelitian sarjana Norwegia Otto Christian Dahl, penulis buku Migration from Kalimantan to Madagascar (1991).
Madagaskar yang saat ini berpenduduk sekitar 21 juta jiwa potensial menjadi modalitas signifikan bagi pengembangan hubungan bilateral di segala bidang.
Melalui soft power diplomacy yang salah satu bentuknya adalah pagelaran WPNM tersebut, diharapkan mampu menjadi jembatan saling pengertian posisi masing-masing pihak, peningkatan kerjasama dalam perdagangan dan investasi serta sosial budaya mencakup pendidikan dan kerja sama teknik.
Selain itu juga diharapkan menjadi stimulus bagi pengembangan kerjasama bilateral di masa mendatang seperti kajian pembukaan Indonesian Center, Studi Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Malagasy, kerjasama bidang kepemudaan dan olahraga, serta kerjasama bidang lingkungan hidup. (es/es)











































