"Data terbaru berdasarkan albedo, yaitu perbandingan antara radiasi yang dipancarkan oleh awan dan radiasi yang diserap oleh awan, dari data itu menyimpulkan albedo-nya ternyata rendah sehingga bisa dipastikan bukan Cb. Albedo Cb lebih dari 90 persen," jelas Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Thomas Djamaluddin, ketika dihubungi detikcom, Rabu (16/5/2012).
Dalam blog Thomas Djamaluddin, tdjamaluddin.wordpress.com, dituliskan nilai albedo awan saat itu adalah 35%. Sedangkan ketinggian awan itu, tetap 37 ribu kaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peneliti Lapan gunakan data lain, bukan albedo. Setelah mengkaji ulang, mengkonfirmasi betul itu bukan awan Cb tapi awan tinggi biasa. Memang pada saat kejadian di sekitar Gunung Salak ada awan, bukan Cb tapi awan tinggi biasa, sifatnya memang tidak terlalu mengganggu penerbangan," jelas dia.
Pengkajian ulang Lapan ini bersama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Senin 14 Mei 2012 lalu.
"Jadi, kesimpulannya pada saat Sukhoi melintasi Gunung Salak, ada awan tebal dengan liputan lebih dari 70%, terutama terdiri dari awan tinggi yang mencapai ketinggian 37.000 kaki. Awan tersebut bukanlah awan kumulo nimbus (Cb)," tulis Djamaluddin pada blognya.
(nwk/nrl)











































