Pilot Tim SAR, Melawan Awan Tebal dan Angin Kencang

- detikNews
Minggu, 13 Mei 2012 17:26 WIB
Jakarta - Kondisi medan yang berat, menjadi tantangan bagi pilot helikopter evakuasi korban musibah Sukhoi SuperJet 100. Mereka harus mengantisipasi terbatasnya jarak pandang akibat kabut dan mempertahankan helikopter tak terhempas ke dinding tebing akibat kencangnya angin.

"Awan turun yang berbahaya, kita jadi tidak bisa melihat puncak gunung," ujar Serka Taufik, pilot helikopter Puma TNI AU, di Posko Cijeruk, Bogor, Minggu (13/5/2012).

Di kawasan Gunung Salak, awan alias kabut tebal terhitung sangat sering turun. Proses evakuasi pun sering harus dihentikan sementara karena terbatasnya jarak pandang bagi pilot helikopter yang bisa menyulitkan mereka melakukan manuver menghindari dinding jurang.

Tantangan lainnya adalah kencangnya hembusan angin di lembah lokasi jatuhnya Sukoi SuperJet 100. Meski ukuran fisik dan meskin helikopter angkut personel yang Taufik terbangkan tergolong besar, tapi tak urung terombang-ambing akibat tiupan kencang.

"Kecepatan angin yang menghantam heli rata-rata 15 knot," jelas Taufik yang sehari-hari bertugas di Skuadron 06 TNI AU Lanud Atang Sanjaya, Bogor.

Bertugas dalam kondisi yang berangin kencang dan dingin tersebut juga mendatangkan masalah kesehatan bagi anggota tim SAR. "Banyak yang sakit karena lingkungannya tidak steril. Jadi kita juga bawa obat-obatan untuk tim SAR," sambung Taufik.

(ahy/lh)