Tidak Ada Tokoh Sentral, Pilpres 2014 Diprediksi Bakal Sengit

Tidak Ada Tokoh Sentral, Pilpres 2014 Diprediksi Bakal Sengit

Bagus Kurniawan - detikNews
Sabtu, 12 Mei 2012 14:44 WIB
Tidak Ada Tokoh Sentral, Pilpres 2014 Diprediksi Bakal Sengit
Yogyakarta - Pemilihan presiden (pilpres) 2014 diprediksi bakal sengit dibandingkan pemilihan legislatif. Alasannya, belum ada tokoh sentral yang dominan muncul.

"Tensinya Pilpres jauh lebih tinggi dibandingkan pemilu legislatif karena tidak ada tokoh sentral," ungkap pakar politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Pratikno, kepada wartawan di kampus Fisipol di Bulaksumur, Yogyakarta, Sabtu (12/5/2012).

Menurut Pratikno, dibandingkan dengan tahun Pemilu 2009 lalu suasana pertarungan juga berbeda. Diperkirakan pemilu tahun 2014 secara umum juga bakal dengan tensi tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau Pileg mungkin masih secara kolektif. Sedangkan Pilpres pertarungannya sudah individu-individu," katanya.

Masing-masing calon punya peluang yang sama untuk menang. Pertarungan bisa dimenangkan satu kali atau bisa dua kali putaran/ronde. Namun bila harus 2 ronde, hal ini benar-benar akan menguras energi politik.

"Karena itu, kami mengimbau agar masyarakat Indonesia harus mawas diri terhadap risiko tersebut, karena bisa dipastikan akan tinggi tensinya," kata guru besar Ilmu Pemerintahan itu.

Pratikno mengaku saat menjadi tim seleksi calon anggota KPU, dia juga telah mengungkapkan hal tersebut kepada semua calon yang terpilih. Selain itu, tingginya tensi politik juga memungkinkan banyak pihak yang ikut tertarik dalam konstelasi tersebut.

"Perguruan tinggi seperti UGM itu bisa jadi ikut ketarik, tapi yang penting adalah kewaspadaan kita semua terhadap suasana seperti itu baik UGM maupun Yogyakarta," katanya.

Menurut dia, beberapa masalah yang muncul di Yogyakarta akhir-akhir ini seperti masalah RUUK DIY yang belum selesai, pertikaian di internal Pakualaman dan kasus kekerasan diskusi buku Irshad Manji juga bisa mempengaruhi suhu politik di Yogyakarta sendiri maupun nasional secara keseluruhan. Sebab Yogyakarta dan UGM selama ini menjadi rujukan bagi kemajuan bangsa.

Dia juga mengkhawatirkan Yogyakarta yang menjadi barometer politik dan miniatur Indonesia itu sedang di uji barometernya. Apalagi menjelang 2014, situasi perpolitikan nasional akan kembali meningkat sehingga sangat mungkin Yogyakarta akan ditarik-tarik ke arah tersebut.

"Bila Yogya ikut ketarik arena ketegangan politik Indonesia juga bisa berubah. Bila Yogya terusik, hal itu akan menganggu Indonesia dan UGM juga bisa terbawa-bawa," katanya.

Namun untungnya, lanjut Pratikno, sampai saat ini soliditas warga Yogya masih terjaga dengan baik. Hal itu ditunjukkan dengan aksi demo menolak kekerasan sebagai reaksi kasus kekerasan yang terjadi di Yogyakarta seperti kasus Babarsari dan Irshad Manji.

"Masyarakat sudah sadar betul sehingga tidak mudah terpancing. Kita berharap Yogya bisa jadi remnya Indonesia bila kebablasan dan Yogya menjadi gasnya bila Indonesia macet," pungkas Rektor UGM terpilih yang akan dilantik pada akhir bulan ini.

(bgk/aan)


Berita Terkait