"Ini sudah 2 hari, pembusukan sudah mulai terjadi. Sehingga kita akan keluarkan enam orang dulu untuk dilakukan autopsi dan berikutnya seperti ini," ujar Kepala RS Polri Brigjen Agus Prayitno, ketika dihubungi, Jumat (11/5/2012).
Menurut Agus, pihaknya akan menerima seluruh korban Sukhoi. Kemudian korban akan diberi label sesuai jenis kelamin dan ras. Lalu korban akan dimasukkan ke dalam lemari es. Setelah itu akan dicocokkan data postmortem dengan data antemortem. Proses antemortem sudah mulai dilaksanakan di Bandara Halim Perdanakusumah Kamis (10/5) kemarin.
"Jadi nanti data antemortem dan data postmortem kita akan lakukan rekonsiliasi. Kalau data tersebut cocok pihaknya akan menyerahkan ke keluarga korban," jelasnya.
Agus mengungkapkan, waktu autopsi tergantung kondisi korban. Pihaknya mulai memproses bagian luar, dalam, pemeriksaan primer sidik jari gigi geligi, dan diambil sampel DNA-nya.
Jika dari sidik jari, lanjut Agus, sudah cocok akan lebih mudah. Namun jika sidik jari tidak bisa mencocokkan giginya, pihaknya akan mencocokkan dengan DNA.
"Kalau ada potongan-potongan kita harus mencocokkan sampai semuanya selesai dan yang kita lakukan profesional. Semuanya dikumpulkan di sini. Tim kami yang antemortem ada di Halim, ada tenda," tuturnya.
Agus menambahkan, pihaknya sudah membangun tenda darurat untuk autopsi di masing-masing tenda. Kemudian dapat dilakukan autopsi.
2 Tenda untuk 4 jasad kemudian disiapkan lemari pendingin untuk menyimpan 16 jasad.
"Saat ini punya 6 legal untuk autopsi dan lebih kurang bisa simpan 50 jenazah yang akan dilakukan di sini," ujar Agus.
Sedangkan untuk korban WN Rusia, menurut Agus, pihaknya akan meminta data antemortem di Kedutaan Rusia. Nanti pihak Kedutaan Rusia akan mengirimkan ke RS Polri.
"Biasanya orang luar negeri data forensiknya sudah lengkap sehingga lebih gampang kita identifikasi," ucap Agus.
(nwy/nrl)











































