"Alasannya tentang nilai UGM selama ini, di mana nilai yang dipegang UGM adalah menggali jati diri dengan nilai penting. Kita pandang apa yang akan digelar itu memiliki manfaat kecil bila dibandingkan dampaknya. Masalahnya kita belum saatnya pembelajaran seperti itu secara lugas, dan mempertimbangkan kedewasaan masyarakat," ujar Direktur Pascasarjana UGM, Prof Dr Hartono, saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (9/5/2012).
Selain itu ketika mencuat rencana diskusi Irshad Manji di UGM, terlihat ada reaksi di masyarakat. UGM melihat ada mobilisasi beberapa ormas di Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mudharate kakehan, kurang barokah. Dadine ora apik (mudaratnya terlalu banyak, kurang bermanfaat. Jadinya tidak baik)," imbuhnya.
Hartono menambahkan UGM hadir untuk membangun pendidikan di tengah masyarakat. Mandat dari Presiden pertama RI, Soekarno, UGM mengemban tiga hal. Pertama, harus membangun pengetahuan untuk rakyat. Kedua, menjaga keutuhan NKRI. Ketiga, menjadi benteng bagi Pancasila.
"Itu pertimbangannya. Kalau dia (Irshad Manji) mau begitu (menjadi seorang lesbian) ya silakan saja, tidak usah promosi," ucap dia.
Meskipun Irshad Manji hanya sekadar diskusi atau tukar pikiran saja? "Diskusi itu bisa jadi penyebaran paham kalau pesertanya belum siap. Karena pesertanya belum tentu punya nilai luhur yang kuat," kata Hartono.
Sebelumnya diskusi Irshad Manji terkait bukunya 'Allah, Liberty and Love' dibubarkan FPI di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (4/5). Irshad Manji yang dilabeli Barat "Feminis abad 21" dituding FPI menyebarkan paham gay dan lesbian.
(vit/nrl)











































