AMPG: Golkar Sebaiknya Koalisi Permanen Sebelum Pilpres II
Jumat, 13 Agu 2004 18:28 WIB
Jakarta -
Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) merekomendasikan agar Partai Golkar sebaiknya melakukan koalisi permanen sebelum Pilpres putaran dua."Berdasarkan hasil Rapimnas AMPG yang berlangsung 9-12 Agustus 2004, kami sepakat untuk mengeluarkan pernyataan sikap yang akan mengawal Partai Golkar dalam mengambil keputusan pada Rapimnas 14-15 Agustus 2004."Demikian kata Ketua Umum AMPG Rambe Kamarulzaman dalam jumpa pers di Kantor AMPG yang bertempat di kompleks Kantor DPP Partai Golkar jalan Anggrek Neli Murni Slipi Jakarta Barat, Jumat (13/8/2004).Dituturkan dia, rekomendasi itu antara lain, Partai Golkar perlu melakukan kerja sama politik dengan parpol lain yang mewakili pemenangan Pilpres putaran dua, dan kerja sama itu sifatnya permanen.Kemudian, lanjut dia, Partai Golkar sebaiknya melakukan koalisi sebelum Pilpres putaran dua pada 20 September 2004. Partai Golkar harus melakukan koalisi terhadap pihak yang mau berkoalisi, bukan yang setengah hati. Karena koalisi tidak akan terjadi dengan yang setengah hati."Mengenai koalisi permanen, kita ingin koalisi yang besar. Jangan yang darurat. Jangan sampai kejadian di kabinet sekarang terulang lagi. Yaitu menteri-menteri mengundurkan diri akibat sistem koalisi yang tidak jelas," ujar Rambe.Mengenai pertemuan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung dengan capres Partai Demokrat SBY kemarin. Di mana, SBY sudah menyatakan akan berkoalisi setelah 20 September 2004."Sedangkan kita ingin agar Partai Golkar berkoalisi sebelum 20 September 2004. Ini saja sudah kelihatan tidak cocok. Pokoknya kita akan terus mengawal Partai Golkar dengan batasan-batasan ini," kata Rambe.Mengenai kecenderungan AMPG terhadap Mega, namun ada juga yang condong ke SBY, Yoris Raweyai dari Partai Golkar menampiknya. Namun dia mengakui turut serta menghadiri acara pertemuan dengan SBY kemarin."Golkar itu parpol yang besar dan dewasa. Acara kemarin itu bukan acara Golkar, tapi acara suatu lembaga, yakni Kaukus Bhinneka Tunggal Ika yang didirikan setahun yang lalu. Kebetulan memang SBY ikut berpartisipasi dalam lembaga ini," ujarnya."Tapi apapun keputusan Golkar nanti, sebagai kader tentu kita harus mengikuti itu. Walau mungkin keputusan tersebut bertentangan dengan hati nurani," kata Yoris.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































