Habis Gelisah Terbitlah Cemas

Mahalnya Kuliah di PTN (3)

Habis Gelisah Terbitlah Cemas

- detikNews
Jumat, 13 Agu 2004 14:47 WIB
Jakarta - Kuliah bisa menjadi kecemasan. Nuansa inilah yang terjadi di dunia pendidikan kita. Cemas saat menanti pengumuman masuk PTN, akankah diterima atau tidak. Jika sukses masuk, berganti cemas memikirkan orang tua yang belum tentu sanggup membiayai pendidikan yang kian mahal di universitas. Kalau bisa ditambahkan lagi, cemas dengan kesempatan kerja di masa mendatang melihat begitu susahnya para sarjana pada saat ini memperoleh pekerjaan.Kecemasan seperti inilah yang dialami oleh Nafmudin Fauzi, yang sudah satu bulan mondok di Yogyakarta mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi. Anak Palembang ini namanya masuk dalam daftar pengumuman SPMB yang digelar di UGM, yang diumumkan melalui jalur internet kemarin. Dari 2 pilihan IPA yang diambil, ia diterima di Teknik Elektro universtas tersebut. Ia merasa lega dan segera memberikan kabar tersebut ke orangtuanya di Palembang. "Ya saya sangat senang, tapi gantian sekarang yang pusing orang tua karena harus memikirkan pembayarannya," kata Fauzi.Fauzi kemudian merinci uang yang harus segera dibayarkan. Dari uang pangkal, SPP, uang SKS, membeli jaket, uang ospek, sampai keperluan kos dan rencana tinggal di Yogyakarta untuk waktu selama kuliah. "Rincian dari uang pangkal, SPP dan seterusnya Rp 11 jutaan. Ini masih mending dibandingkan dengan yang masuk lewat jalur khusus. Jumlahnya hampir sama saja kalau saya masuk swasta," kata Fauzi.Alumnus SMA Palembang ini menceritakan bagaimana orangtuanya mencarikan dana. Sebagai pedagang, uang tersebut memang belum ada di tangan. "Tetapisaya yakin akan terbayar. Pedagang pintar cari pinjaman kok," katanya. Lain lagi cerita Eri Kurniawati yang bercita-cita menjadi dokter. Ia sempat kecewa ketika gagal menembus seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) tahunlalu. Untunglah, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, membuka jalur lain. Namanya, Program Pendidikan Dokter Tambahan (PPDT).Lewat pintu ini, anak seorang pengusaha di Ngawi, Jawa Timur itu mencoba mewujudkan harapannya. Tak peduli besarnya dana yang dikeluarkan orangtuanya. "Yang penting, saya bisa masuk Fakultas Kedokteran," katanya. Bersama 60 mahasiswa lain yang masuk lewat PPDT, Eri kuliah bersama mahasiswa kedokteran reguler.Hanya saja, karena jalurnya beda, ongkos yang dikeluarkan Eri jauh lebih mahal. Setiap mahasiswa diwajibkan membayar Rp 75 juta. Sumbangan itu termasuk untuk dana praktikum, uang gedung, dan pengembangan fasilitas. Dibandingkan dengan tarif masuk mahasiswa jalur SPMB, jumlah itu memang gede.Tahun lalu, nasib apes dialami Depy Priyanti, alumni SMA 9 Jakarta Timur, sewaktu mengikuti SPMB tahun lalu. Ia tak lolos masuk UI dan UGM. Ia curiga karena menulis ulang pangkal minimal. "Akhirnya saya tahun ini diterima setelah tahu tekniknya, jangan menulis sumbangan minimal," tambah Depy yang namanya masuk dalam daftar mahasiswa baru UI.Bagi orang berkocek tebal, memang uang tak masalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang berpenghasilan pas-pasan. Tentu menjadi persoalan serius. Seperti yang dituturkan Ibu Laila yang membiayai 2 anaknya kuliah di UGM dan Universitas Paramadina Jakarta. Ia harus mengeluarkan uang bulanan, 3 bulanan dan semesteran."Anak saya yang di Yogya beruntung masuk PTN 2 tahun lalu. Yang satu masuk Universitas Paramadina tahun ini. Uang yang dikeluarkan lumayan banyak. Bulan ini saya harus membayar uang masuk Paramadina tahap pertama sekitar Rp 12 juta. Terus yang di Yogya harus membayar uang semesteran, uang bulanan dan uang kos sebesar Rp 6 juta. Total bulan ini keluar Rp 18 juta," kata Ibu Lila, sehari-hari ia membuka usaha furniture di kawasan Cawang, Jakarta Timur.Untuk membiayai kuliah, terpaksa ia menjual salah satu rumah kontrakan yang ia beli sewaktu masih jaya sebagai pedagang. "Sekarang susah jual barang dagangan. Banyak pesaing dan bagus-bagus. Sementara kebutuhan untuk pendidikan anak terus meningkat," tambahnya.Berat memang membiayai orang kuliah. Data yang dimiliki oleh Ketua Bidang Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM UI, Tyas Dian Wahyuni, menyebutkan dari 276 yang diterima melalui PPKB, hanya 249 yang mendaftar ulang, dan 162 calon mahasiswa meminta keringanan."27 orang mengundurkan diri dengan berbagai alasan," kata Tyas. Menurutnya ada seorang calon mahasiswa dari Palembang yang tidak jadi mendaftar dan kembali lagi ke kota asalnya karena merasa tidak mampu membayar semua biaya masuk. (tbs/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads