Rekrut Artis, Bukti Parpol Gagal dan Pragmatis

Rekrut Artis, Bukti Parpol Gagal dan Pragmatis

- detikNews
Sabtu, 05 Mei 2012 10:42 WIB
Rekrut Artis, Bukti Parpol Gagal dan Pragmatis
Jakarta - Menggaet artis untuk mendulang suara masih jadi pilihan utama partai politik menghadapi Pemilu. Namun cara instan ini menunjukkan kegagalan kaderisasi di dalam partai termasuk pragmatisme meraup keuntungan lewat perekrutan artis.

"Partai di Indonesia memang belum terinstitusionalisasi sebagai partai modern, sehingga kerap pragmatis dalam proses distribusi dan alokasi SDM partai ke jabatan-jabatan publik seperti dalam penetapan caleg," kata pengamat politik Gun Gun Heryanto kepada detikcom, Sabtu (5/5/2012).

Menurutnya, bila parpol di Indonesia menjadi partai modern maka mekanisme kepartaian didasarkan pada kaderisasi melalui pola rekrutmen, pembinaan loyalis dan pendistribusian kader loyalis untuk mengisi jabatan publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara kalau partai yang tidak modern, pendistribusian dan pengalokasian SDM itu biasanya berdasarkan pada pola pragmatis dan transaksional," imbuhnya.

Gun Gun menambahkan terdapat dua kelompok yang diuntungkan melalui sistem perekrutan tanpa kaderisasi. Mereka yang diuntungkan memiliki kekuatan untuk membayar transaksi politiknya dan mereka yang sudah memiliki basis massa semisal fans.

"Kelompok kedua inilah yang disebut 'vote getter' atau pendulang suara. Menurut saya banyaknya artis yang dicalegkan partai itu karena parpol yang belum menjadi institusi partai modern berbasis kader melainkan masih mengandalkan popularitas kelompok vote getter tadi," terang Direktur Eksekutif The Political Literay Institute ini.

Menurutnya kelompok pendulang suara yang biasa diambil parpol berasal dari artis, mantan militer,mantan elite, birokrat, akademisi dan aktivis. Kelompok luar partai ini memiliki potensi pada peningkatan suara partai.

"Tetapi, masalahnya kerapkali partai hanya merekrut mereka secara instan, sehingga tidak menyumbang institusionalisasi partai politik. Hanya strategi elektoral yang pragmatis dan transaksional," ujar Gun Gun.

Seperti diketahui sejumlah parpol mulai berancang-ancang menggaet para artis. Golkar melirik Artika Sari Devi, Katon Bagaskara dan Arri Lasso untuk dididik menjadi caleg di Pemilu 2014. Sementara PPP berminat meminang Desy Ratnasari dan Deddy Mizwar untuk dicalonkan sebagai anggota dewan.

Kedua partai ini memang sukses menyisipkan caleg dari kalangan artis. Sebut saja Nurul Arifin, anggota Komisi II DPR yang juga Wakil Sekjen Partai Golkar. Sementara PPP pada Pemilu 2009 mengusung tiga orang artis sebagai caleg. Hasilnya satu orang berhasil duduk di parlemen.

(fdn/gah)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads