Mahasiswa UGM & UNY Demo Tingginya Ongkos Pendidikan
Jumat, 13 Agu 2004 12:04 WIB
Jakarta - Aksi demo menolak mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) kembali marak, Jumat (13/8/2004). Seiring pengumuman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), mahasiswa Universits Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar aksi menolak tingginya Biaya Operasional Pendidikan (BOP) yang dibebankan kepada mahasiswa baru tahun akademik 2004/2005.Aksi pertama dilakukan 200-an mahasiswa UNY yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) di tangga pintu masuk gedung rektorat di Jl Colombo, Karangmalang, Yogyakarta. Sedangkan aksi kedua dilakukan oleh belasan mahasiswa UGM di Bundaran UGM Bulaksumur Yogyakarta mulai pukul 09.30 WIB.Mahasiswa UNY yang berencana menggelar aksi penolakan itu sejak pukul 06.00 WIB, namun baru dilaksanakan pukul 08.00 WIB. Sementara itu aparat keamanan dari Polres Sleman bersama satpam UNY sudah berjaga--jaga di depan pintu gerbang kampus sejak pagi hari.Berbagai poster dan spanduk yang dibawa mahasiswa antara lain bertuliskan "BOP dilarang masuk di UNY, BOP No Pendidikan Murah Yes, Tolak BOP" serta sebuah spanduk putih sepanjang 6 meter bertuliskan "Usir Segera Hantu BOP dari UNY." Selain itu mereka juga mengusung sebuah keranda bertuliskan "Keranda Kampus Rakyat."Dalam orasinya, koordinator aksi Adianto menyatakan, kebijakan baru berbagai perguruan tinggi negeri dengan menaikkan biaya pendidikan adalah tindakan yang tidak tepat dan jumlah tidak proporsional merupakan hal yang menyedihkan di tengah-tengah terpuruknya kondisi pendidikan di Indonesia.Tingginya biaya pendidikan seolah-olah pendidikan itu hanya diperuntukkan bagi orang yang berduit saja, sedang orang yang tidak mampu hanya bisa mimpi belaka.Bahkan momen pendaftaran mahasiswa melalui SPMB dijadikan peluang bagi PTN untuk mendapatkan dana segar sebesar-besarnya. Namun yang menjadi korban justru mahasiswa baru akibat kebijakan tersebut. Di kampus UNY, kata Adi, biaya rutin yang wajib dibayarkan oleh mahasiswa reguler mulai tahun akademik 2004/2005 dinaikkan dari Rp 360 ribu menjadi Ro 705 ribu/semester ditambah BOP sebesar Rp 225 ribu/semester."Adanya BOP dan pungutan lain seperti Ikatan Orangtua Mahasiswa (Ikoma) di UNY cukup meresahkan kami sebagai mahasiswa, sehingga kami meminta rektor mencabut BOP segera," teriak Adi.Rektor UNY Prof Suyanto PhD ketika menemui mahasiswa mengatakan, rektorat sudah melakukan sosialisasikan masalah BOP kepada mahasiswa. Namun oleh mahasiswa hal itu dibantah dan rektorat dianggap belum mensosialisasikannya."BOP itu penting bagi perguruan tinggi karena semua perguruan tinggi termasuk UNY itu membutuhkan biaya yang besar untuk meningkatkan mutu pendidikan," katanya.Suyanto kemudian membandingkan BOP dengan SPP yang dikenakan kepada siswa-siswa SMU yang justru jauh lebih besar biayanya. "Bandingkan saja uang kuliah mahasiswa dengan SMU-SMU sekarang ini ada yang besarnya biaya lebih dari itu. Dan kebijakan ini kami ambil karena sekarang ini kita ingin meningkatkan mutu pendidikan," ujarnya.Dalam pernyataan sikapnya AMPP UNY menyatakan menolak pungutan BOP karena tidak seusai dengan kondisi mayoritas masyarakat Indonesia. Meminta kepad rektor UNY mencabut SK Rektor No 102/2004 mengenai kenaikan biaya pendidikan di UNY paling lambat 1 x 24 jam setelah aksi tersebut. Aksi mahasiswa UNY itu diakhiri dengan pembakaran keranda kampus rakyat yang menandakan habisnya harapan pendidikan bagi rakyat kecil akibat BOP.Sementara itu aksi yang dilakukan BEM UGM di Bundaran UGM, koordinator aksi Widiantoro mengatakan, mahasiswa UGM mengingatkan agar momen pengumuman SPMB tidak digunakan oleh rektorat untuk menaikkan biaya pendidikan dengan alasan kampus telah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Mahasiswa UGM juga menyatakan menolak eksploitasi terhadap mahasiswa baru yang terjadi hampir setiap tahun. Meminta kepada rektorat untuk meninjau ulang kebijakan-kebijakan kampus yang berkaitan biaya pendidikan.
(nrl/)











































