Ketua MA Hapus Tradisi Wawancara Singkat Usai Salat Jumat

Ketua MA Hapus Tradisi Wawancara Singkat Usai Salat Jumat

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 04 Mei 2012 15:20 WIB
Ketua MA Hapus Tradisi Wawancara Singkat Usai Salat Jumat
Jakarta - Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali menghapus tradisi wawancara singkat Ketua MA dengan wartawan usai salat Jumat. Kebiasaan ini telah berlangsung 11 tahun sejak Bagir Manan menjadi Ketua MA.

"Bapak tidak mau ada lagi wawancara habis jumatan," kata sumber detikcom di MA, Jumat (4/5/2012).

Sudah menjadi tradisi di tubuh MA sejak 2001 silam, usai salat Jumat para pemburu berita mengejar Ketua MA untuk dimintai pandangannya terkait polemik hukum dan kebijakan MA paling mutakhir. Sebelum masjid MA berdiri, pekerja media telah berbaris rapi di lobi gedung utama MA usai salat Jumat. Setelah masjid berdiri, para pemburu berita menunggu di pintu gedung utama sebelah barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alasan beliau ya enggak aja," ujarnya.

Hatta Ali juga tidak terlalu antusias saat diberikan alternatif menggelar jumpa pers sebulan sekali. "Ya gitu aja," terangnya.

Hatta Ali yang coba dikonfirmasi detikcom, tidak mengangkat ponselnya. Namun hal ini dibenarkan oleh juru bicara MA yang juga hakim agung, Gayus Lumbuun. "Iya memang seperti itu. Tapi kurang tahu alasannya apa," ujar Gayus.

Seperti diketahui, usai reformasi bergulir, terpilihlah Bagir Manan sebagai Ketua MA pada 2001 silam. Dia lalu rajin menggelar 'door stop' usai salat Jumat. Saat terpilih kembali menjadi Ketua MA pada 2006 dia meneruskan tradisi tersebut.

Pengganti Bagir Manan, Harifin Tumpa juga meneruskan kebiasaan baik tersebut. Pria asal Sulawsi Selatan ini selalu meladeni pertanyaan para wartawan usai salat Jumat. Bahkan kadang hingga di pintu lift. Setelah tampuk kekuasaan MA beralih ke Hatta Ali pada awal April 2012, kebiasaan ini dihapus.

Saat melakukan jumpa pers terakhir, Harifin mengaku sangat menikmati berinteraksi dengan wartawan. Dia juga mengaku rajin membaca berbagai isu di media massa.

"Kritikan terhadap MA ini adalah dinamika kehidupan masyarakat. Tetapi kalau dibandingkan dengan kritikan-kritikan yang dulu dan sekarang, saya anggap sekarang ini tidak ada apa-apanya," ujar Harifin saat itu.

(asp/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini