Jalur TransJ membentang di kawasan Kuningan dan juga Sudirman. Juga di jalur Gatot Subroto hingga MT Haryono. Tetapi apa daya, maksud awal adanya jalur itu agar orang kantoran beralih dari mobil pribadi ke TransJ tidak tercapai. Mereka tetap memilih menaiki mobil pribadi. Macet pun tidak terhindarkan di ruas-ruas itu di jam pergi dan pulang kantor.
"Itu karena TransJ belum memberikan kenyamanan," kata pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, saat berbincang, Jumat (4/5/2012).
Mobil pribadi jelas-jelas lebih memberi kenyamanan. Macet yang melanda bisa lebih dinikmati dengan naik mobil sendiri. Adanya AC, musik, saluran TV, membuat mobil pribadi lebih menarik dibanding TransJ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"TransJ belum menerapkan standar pelayanan minimal, padahal kepadatan penumpang semakin parah. Kemudian jadwal keberangkatan di TransJ yang tidak jelas dan orang mesti menunggu lama membuat banyak opportunity yang hilang," terangnya.
Yang menumpang TransJ umumnya dahulu yang biasa naik angkutan umum. Pengguna kendaraan pribadi tidak terserap. Yang paling utama juga, feeder TransJ yang menghubungkan halte TransJ dengan sejumlah kawasan tidak ada. Penumpang mengalami kesulitan untuk menyambung kendaraan ketika sampai di halte terakhir dan ingin bergerak kembali ke tempat tujuan.
"Jadi biasanya orang naik TransJ karena keterpaksaan," tutur Yayat.
(ndr/rmd)











































