Aksi tersebut antara lain di gelar oleh massa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Yogyakarta, anggota BEM-K Universitas Gadja Mada (UGM), Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) Cabang Yogyakarta dan lain-lain.
Aksi dilakukan di beberapa tempat diantaranya Bundaran Kampus UGM, halaman DPRD DIY di Jl Malioboro, Tugu Yogyakarta dan titik nol kilometer di simpang empat Kantor Pos Besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, RUU PT trsebut pantas ditolak karena masih ada campur tangan asing atau intervensi asing dalam proses pendidikan di tanah air ke dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan menjadi suatu komoditas bisnis untuk meraih profit sebesar-besarnya yang terlihat pada kenaikan biaya pendidikan setiap tahun.
"Pendidikan sudah melenceng dari UUD 1945 yaitu mencerdaskan bangsa. Hentikan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan," katanya.
Selain itu, lanjut Zuhad, pihaknya menuntut adanya pendidikan murah untuk rakyat. Namun dalam RUU PT tersebut justru pasal-pasalnya bertentangan dengan UUD 1945. Banyak muatan justru meniadakan peran pemerintah. "Ini akan memperburuk pendidikan di Indonesia namun justru dibiarkan pemerintah," katanya.
Selain menggelar orasi, di titik nol kilometer, peserta aksi membagikan bunga kertas yang berisikan kata-kata mutiara para tokoh pendidikan. Bunga kertas tersebut dibagikan kepada para pengendara yang melintas di kawasan itu saat lampu pengatur lalu lintas menyala merah.
Beberapa kata-kata mutiara misalnya dari John Dewey, 'Pendidikan bukan persiapan untuk hidup. Pendidikan adalah hidup itu sendiri'.
(bgk/trw)











































