"Semacam peta lingkungan atau denah desa atau denah sekolah. Kita keliling-keliling. Hal-hal yang negatif dan positifnya difoto dengan kamera polaroid dan hasilnya ditempelkan di peta. Lalu masing-masing didiskusikan," kata Koordinator Pendidikan Publik dan Kesiapsiagaan Masyarakat (Community Preparedness) LIPI, Irina Rafliana.
Hal itu disampaikan dia usai pemaparan hasil-hasil riset kegempaan dan kegunungapian, kerja sama riset Indonesia - Jepang di kantor COREMAP LIPI, Jl Raden Saleh No 43 Jakarta, Selasa (1/5/2012).
Pembuatan peta bencana itu menjadi semacam proses observasi. Umumnya jarang masyarakat yang melakukan observasi di lingkungannya. Padahal observasi lingkungan sekitar sangat bermanfaat.
"Karena kita tahu kan rumah kita tapi kita tidak perhatikan dengan detail misalnya tiang listrik di mana, bagaimana kalau ada kabel yang terbuka. Tampaknya sih sederhana tapi kan sangat bermanfaat sekali," sambung Irina.
Nah, saat digelar diskusi, siapa saja bisa ikut serta. Siswa SD bahkan pernah dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Siswa SMP, SMA, maupun kelompok masyarakat juga bisa dilibatkan.
"Kalau ada kebakaran, kondisi darurat, kita benar-benar mengerti kondisi lingkungan kita seperti apa. Misalnya zona aman kalau ada gempa. Dan ini secara psikologi lebih masuk ke masyarakat karena mereka sendiri yang buat," papar Irina.
Jika tidak ada polaroid, maka warga bisa menggambar sendiri kondisi yang ada. Metode semacam ini merupakan ide dari Jepang.
"Dilaksanakan di Bogor, Bantul, Aceh, di mana-mana. Mereka didampingi fasilitator, dan pelaku utamanya tetap masyarakat," sambung Irina.
Dari wikipedia, kamera Polaroid atau kamera langsung jadi merupakan kamera yang dapat memproses foto sendiri di dalam badan kamera setelah dilakukan pemotretan. Kamera ini menggunakan film khusus yakni film polaroid. Nah, film polaroid yang menghasilkan gambar berwarna dikenal sebagai film polacolor.
(/nrl)











































