Di dalam aksinya di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (1/5/2012), mereka membawa ogoh-ogoh berbentuk gurita berwarna oranye. Gurita setinggi 3 meter dengan tentakel sepanjang 2 meter itu melambangkan konglongmerasi media massa yang saat ini makin menakutkan.
"Kondisi ini tentu tidak kondusif untuk menciptakan iklim jurnalisme yang sehat di Indonesia, kesejahteraan jurnalis yang rendah semakin rentan mendapat godaan suap dalam bentuk apapun dari narasumber," kata Ketua AJI Jakarta, Umar Idris.
Selain itu, ia juga menyampaikan agar para jurnalis diberikan kebebasan masyarakat. Dia mencontohkan pemberhentian sepihak 13 wartawan Indonesia Finance Today dan kasus Luvia jurnalis Metro TV merupakan kasus yang memprihatinkan.
"Kasus Luviana dan IFT menunjukkan ancaman kebebasan bersuara dan berpendapat di perusahaan pers masih mengintai setiap saat," tegasnya.
Selain membawa ogoh-ogoh Gurita, massa juga membawa kamera yang terbuat dari kardus. Mereka juga berbaur dengan para buruh yang sedari pagi sudah menumpuk di Bunderan HI.
(lh/lh)











































