Nanti Malam Akbar-SBY Bicarakan Kemungkinan Kerjasama

Nanti Malam Akbar-SBY Bicarakan Kemungkinan Kerjasama

- detikNews
Kamis, 12 Agu 2004 17:32 WIB
Jakarta - Ketum Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan, pertemuannya dengan SBY pada malam nanti bertujuan untuk menjajaki kerjasama."Itu pertemuan silaturahmi. Kita juga akan membicarakan penyikapan perkembangan politik saat ini dan juga mengenai kemungkinan kerja sama," kata Akbar di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (12/8/2004)."Saya juga akan mendengar nanti penjelasan beliau mengenai rencana pembentukan koalisi setelah tanggal 20 Sepetmber, karena rapat pleno DPP Partai Golkar telah sepakat membangun koalisi sebelum pilpres," sambungnya.Menurut Akbar, pembentukan koalisi lebih bertanggung jawab sebagai kekuatan sosial politik, walaupun Golkar tidak punya calon presiden lagi. "Sekaligus menjadi pedoman bagi pemilih Partai Golkar dan juga kita tidak ingin diposisikan koalisi di lingkaran luar," ungkapnya.PlenoGolkar pada Rabu malam menggelar rapat pleno DPP hingga Kamis pukul 03.30 WIB. Keputusan yang diambil adalah sepakat membangun koalisi guna memperkuat lembaga pemerintahan dan lembaga perwakilan karena parpol saat ini tidak ada yang mendapat dukungan mayoritas."Kami juga akan makin mencermati tawaran-tawaran yang diberikan kedua capres, sejauh mana platform, program, termasuk format pemerintahan. Ibu Mega memang sudah memberikan tawaran. Tapi tetap saja Pak SBY terbuka peluang untuk kerjasama dnegan kami. Tinggal sejauh mana tawaran kerjasama tersebut bsia ditindaklanjuti," paparnya.MKGRSebelumnya, Akbar menerima fungsioaris MKGR yang dipimpin Ketum Irsyad Sudiro. Mereka meminta Golkar mendukung capres Megawati. "Kami sudah melakukan pengamatan, diskusi dan analisis, dan kami jatuhkan dukungan terhadap Ibu Megawati. Karena secara historis hubungan dengan Ibu Mega lebih dekat," papar Irsyad."Kalau kerjasama dengan PDIP dibangun, maka kedua partai itu tidak akan mengganggu. Karena berbeda scara ideologis. Sedangkan bila koalisi dengan Partai Demokrat, maka akan sulit. Karena ideologinya hampir sama," demikian Irsyad. (nrl/)


Berita Terkait