Kisah Asmara 'Yang Mulia' dari Cirebon

Ralat Berita

Kisah Asmara 'Yang Mulia' dari Cirebon

Dhurandara - detikNews
Rabu, 02 Mei 2012 17:30 WIB
Kisah Asmara Yang Mulia dari Cirebon
Jakarta -

Kehidupan hakim sangat tertutup dibanding profesi lain. Apalagi terkait kehidupan yang sangat pribadi, kisah cinta yang bersemi di pengadilan.

"Istri saya yang pertama panitera Pengadilan Negeri (PN) Cirebon. Dia meninggal karena stroke," ujar Hardjono (sebelumnya tertulis M Hamdi. Atas kesalahan ini redaksi minta maaf).

Hakim Pengadilan Tinggi Yogyakarta ini menceritakan saat wawancara terbuka seleksi hakim agung di gedung Komisi Yudisial (KY), Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (30/4/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat istrinya masih hidup itu, Hardjono dikenalkan dengan sesama panitera perempuan oleh istrinya itu. Belakangan, panitera perempuan yang dikenalkan istrinya tersebut menjadi istri keduanya. "Saya menikahi panitera itu. Sekarang dia bertugas sebagai panitera di PN Sleman. Jadi ikut saya di Yogya," kisah Hardjono malu-malu.

Sebagai hakim tinggi, dia mengantongi penghasilan perbulannya Rp 15,4 juta. Ditambah lagi penghasilan istri sebanyak Rp 2,3 juta sebagai panitera. "Alhamdulillah, cukup," ujar Hardjono.

Saat ini menurut Hardjono masyarakatlah yang mengubah hukum. Berbeda dengan dulu, hukumlah yang mengubah masyarakat. Namun menurut panelis Salahuddin Wahid, kedua hal tersebut harusnya berjalan beriringan.

"Apakah dengan uang segitu, masih bisa buat beli buku?" tanya Salahuddin Wahid.

"Alhamdulillah, di Yogyakarta ada toko buku murah," jawab Hardjono pendek.

Seperti diketahui, saat ini 45 calon hakim agung sedang mengikuti seleksi hakim agung sejak Senin (23/4) hingga Rabu (3/5). 5 Dari mereka akan menggantikan 5 hakim agung yang memasuki masa pensiun pada 2012. Mereka adalah Harifin Tumpa, Atja Sondjaja, Imam Harjadi, Mieke Komar dan Dirwoto. Setelah diseleksi oleh KY, nama-nama yang memenuhi kriteria akan diajukan ke DPR untuk dipilih oleh parlemen.

Dari 45 nama tersebut mayoritas dari hakim karier yaitu sebanyak 35 orang. Sedangkan sisanya dari kalangan masyarakat termasuk 2 hakim karier yang mengundurkan diri guna mengejar kursi hakim agung.

(asp/)


Berita Terkait