Foke: Peserta UN di Jakarta Tidak Ada yang Cari Wangsit

Foke: Peserta UN di Jakarta Tidak Ada yang Cari Wangsit

- detikNews
Jumat, 27 Apr 2012 22:37 WIB
Foke: Peserta UN di Jakarta Tidak Ada yang Cari Wangsit
Jakarta - Gubernur Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Foke menyatakan, para peserta Ujian Nasional (UN) SMP sederajat dan SMA sederajat di DKI Jakarta tidak mencari wangsit agar lulus. Hal ini diutarakan Foke ketika mengunjungi acara konsolidasi kader PAN di Hotel Maharadja, Jumat (27/4/2012).

"Tidak ada yang pergi cari pohon beringin, minta wangsit dari sono. Nggak ada yang di Jakarta kayak gitu," celetuk Foke, disambut tawa para peserta yang hadir.

Foke yakin, para peserta UN akan lulus 100 persen karena berbekal latihan dan pembelajaran yang intensif dari guru-guru dan sekolah mereka. "Saat saya mengunjungi mereka (siswa-siswi peserta UN) tidak ada siswa-siswi yang melakukan UN tanpa ketakutan, saya salami tidak ada yang keringat dingin. Kenapa optimis? Kata mereka, kan udah kenal soalnya. Angka kelulusan di Jakarta sebelumnya mencapai 99,9 persen lebih," ujar Foke.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disisi lain, Foke juga mengatakan akan mendeklarasikan pendidikan gratis hingga 12 tahun pada 2 Mei 2012 mendatang. Hal ini sudah berdasarkan kalkulasi yang matang.

"Pendidikan swasta mulai tahun depan, biaya operasionalnya sama dengan negeri dari APBD DKI," tambahnya.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelak akan menjadi objek yang akan digodok oleh pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Bagaimana program yang ditawarkan pasangan ini?

"Sertifikasi lulusan SMK. Jadi para siswa-siswi SMK yang sudah lulus akan diberi sertifikat. Sertifikat jadi agunan untuk modal kerja awal untuk wirausaha, mulai buka usahanya," ujar Foke.

Nantinya diharapkan, para lulusan SMK ini akan menjadi tulang punggung perekonomian Jakarta. Lulusan SMK dapat memberi lapangan pekerjaan baru bagi warga Jakarta. "Lulusan SMK ini tidak mencari pekerjaan tapi memberi pekerjaan. Saya jamin yang begini tidak ada di provinsi lain," cetus Foke.

Foke beralasan, pasar di Jakarta sangat membutuhkan para pekerja yang sudah terampil. Hal ini tidak bisa di akomodir oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). "SMK lebih memberikan jaminan keterampilan. Di Jakarta, pasarnya membutuhkan tenaga terampil, dan itu tidak bisa diproduksi SMA," tambahnya.

(van/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads