"Ketika Batavia dibangun, masuk orang-orang migran. Sehingga campur-campur orangnya di sana," kata antropolog, Prof Dr Yasmine Z Shahab.
Hal itu disampaikan dia dalam bincang-bincang bertajuk 'Betawi Punye Gaye' di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (25/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Percampuran itu membentuk karakteristik sendiri sehingga muncullah budaya Betawi. Ada campuran dari budaya-budaya lain," ujar kolektor artefak Betawi, Emma Amalia, dalam kesempatan yang sama.
Pembauran dengan bangsa lain, imbuh Emma, karena ramainya bandar kota Jakarta di masa lalu. Artefak porselen Betawi mendapat sentuhan dari Belanda, sedangkan artefak kaca sentuhannya datang dari China.
"Dari perhiasan juga banyak pengaruh, tapi khasnya budaya Betawi ada sepeti guratan-guratannya," terang Emma.
Demikian pula dengan pakaian khas Betawi, ada unsur-unsur yang turut diserap. Misalnya kebaya encim yang menyerap unsur dari China. Lalu kebaya haji yang menyerap unsur dari Arab.
"Kebaya sendiri asal katanya abaya, itu dari Arab," ujarnya.
Varian Betawi
Untuk memudahkan analisa, Betawi dibagi dalam 3 carian utama yakni Betawi kota, Betawi pinggir/udik, dan Betawi tengah. Orang Betawi yang hidup di daerah kota disebut sebagai Betawi Kota. Dalam hidupnya, Betawi kota dipengaruhi oleh tradisi di luar ke-Betawi-annya.
Orang Betawi Tengah cenderung menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum. Sedangkan Betawi Pinggir cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama seperti pesantren. Pola hiduplah yang membedakan mereka.
"Pada 1970-an telah melebur sebagai Betawi saja, sehingga sulit mencari mana yang Kota, Tengah dan Pinggir, kecuali bicara sejarah. Pengelompokan ini hanyalah sebagai pisau analisa," ujar Yasmine.
Menurut dia, sebelum tahun 1970-an, Betawi hampir tidak dikenal. Hal ini karena kebanyakan orang Betawi menyembunyikan diri karena munculnya anggapan inferior. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari mereka menyebut dirinya sebagai orang Jakarta atau orang yang berasal dari daerah pasangannya.
"80 Persen orang Betawi tidak kawin dengan orang Betawi," imbuh Yasmine.
Namun setlah tahun 1970-an, orang Betawi mulai berubah. Mereka mulai membangun identitas dan menunjukkan diri pada dunia luar. Tokoh-tokoh Betawi pun bermunculan.
(vta/rmd)











































