"Saya sangat bangga dan berbahagia apabila Bang Ical duduk dengan sesepuh, mengundang Bang Akbar (Akbar Tanjung), Hamengkubuwono, dan mereka yang dianggap layak dipanuti oleh kita yang muda-muda. Karena saya yakin tidak mungkin konsep-konsep diktator dilakukan oleh Ical. Itu hanya karena banyak di sekitar Bang Ical yang 'mengipas-ngipasi'," ujar Muntasir kepada detikcom, Kamis (26/4/2012).
Menurutnya, konflik yang saat ini tengah melanda tubuh Partai Golkar terkait pencapresan melalui Rapat Pimpinan Nasional Khusus (rapimnasus) karena adanya pengaruh kepentingan dari sejumlah elit Golkar di sekitar Ical. Sementara Ical sendiri, menurut Muntasir, merupakan sosok yang tenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ketua DPD II Golkar Banda Aceh ini, sebelum kepemimpinan Golkar dipegang oleh Ical sebagai Ketum, setiap forum resmi pengambilan keputusan selalu melibatkan aspirasi dari DPD II sebagai peserta.
"Harus peserta, bukan peninjau. Selama (kepemimpinan) Ical ini saja sebagai peninjau. Karena dalam AD/ART yang saya ketahui dalam setiap pengambilan keputusan untuk partai, ada keterlibatan DPD II. Itu harus. Suara Golkar itu bukan top down, tapi bottom up," cetusnya.
Muntasir mengklaim saat ini sudah ada 50 perwakilan DPD II Golkar di Jakarta. Seluruh DPD II Golkar menurutnya, mempunyai sikap yang sama terkait rapimnasus.
"Ada 524 DPD II se-Indonesia. 50 DPD II sudah di Jakarta. Mereka tetap komunikasi dengan saya. Lihat saja nanti," pungkasnya.
(rmd/rmd)











































