"Kadang-kadang sekolah tertentu tidak mendaftarkan, hanya menyampaikan jumlah muridnya berapa, tapi tidak mendaftarkan anak yang memiliki keterbatasan berapa, ya jadi dibacakan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, kepada wartawan di kantor GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2012).
Menurut Nuh, siswa tunanetra tidak mendapatkan soal dengan huruf braile sebagai masalah teknis. Diakui sebagian siswa tunanetra mengemban pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah biasa yang memiliki siswa dengan keterbatasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuh menyatakan soal dengan huruf braile ada dan disalurkan kepada sekolah-sekolah luar biasa. "Tapi, anak-anak yang sekolah di SLB ya naskahnya braile," tutup Nuh.
Sebelumnya kepala sekolah SMP Yaketunis Yogyakarta, Agus Suryanto, menyatakan memiliki 6 siswa tunanetra yang harus mengikuti UN tanpa soal Braile. Agus juga mengatakan tidak hanya sekolah inklusi yang tidak mendapatkan soal untuk siswa dengan keterbatasan, tapi juga SLB.
"Kami tidak tahu mengapa tahun ini tidak ada (soal dengan huruf braile). Panitia pusat juga tidak memberikan alasan yang jelas. Kami tidak ingin ini terulang lagi, kalau kami harus membuat soal berhuruf braile sendiri kami bersama sekolah yang lain juga siap," kata Agus.
kadang2 sekolah tertentu tidak mendaftarkan hanya menyampaikan jumlah muridnya brp tapi tidak mendaftarkan anak yug memiliki keterbatasan berapa, ya jadi dibacakan. tapi ankl2 yg sekolah d slb y naskahnya nasklah braille.
(vid/ega)










































