“Saya khawatir jika kita tidak mencintai musik ini nanti dangdut akan diklaim negara lain seperti halnya reok Ponorogo yang sempat diklaim negara tetangga,” tegas Foke saat membuka seminar musik dangdut, seperti disampaikan dalam rilis, Sabtu (21/4/2012).
Musik dangdut merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Oleh karenanya, dijelaskan Foke sudah menjadi kewajiban bangsa Indonesia untuk memajukan musik ini sehingga mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
“Sebagai Pembina PAMMI saya akan membantu merumuskan roodmap musyik Dangdut menuju UNESCO sehingga musik ini bisa merambah seluruh pelosok dunia tidak hanya di Jepang dan Amerika saja,” tegasnya.
Foke yang juga sebagai Dewan Pembina PAMMI berharap agar keberadaan organisasi ini bisa memberikan manfaat yang sangat luar bagi anggotanya dan juga masyarakat Indonesia.
“Suatu saat saya berkunjung ke Inggris dan Harvard, di jalan tanpa sengaja mendengarkan mobil yang memutar musik Dangdut. Go Internasional ini harus bisa memberikan manfaat kepada artis dan pencipta lagu dangdut,” tegasnya.
Tekad yang kuat diantara para pemusik dangdut dan rakyat Indonesia untuk bisa menjadikan musik dangdut akan mampu mengatasi jalan berliku yang akan ditemput PAMMI dalam memperjuangkan keberadaan musik dangdut untuk diakui dunia Internasional sebagai budaya Indonesia.
“Untuk memajukan musik dangdut saya siap berkerja keras kepala jadi kaki, kaki jadi kepala agar musik ini bisa menjadi kebanggaan bersama bangsa Indonesia,” tekadnya.
Foke juga mewacanakan adanya hari dangdut Indonesia untuk bisa lebih mendekatkan musik dengan seluruh elemet masyarakat Indonesia.
(mad/mad)











































