"Pertama, kita sulit membuktikan jika pelakunya adalah anggota (TNI AL). Melalui CCTV kita lihat, sebagian pelaku pakai helm, hanya satu dua orang tanpa helm. Kalau kita zoom pecah. kalau sudah pecah gambarnya tidak jelas, ini tentu menyulitkan di tingkat kami mencocokkan ada atau tidak anggota yang terlibat," papar Untung saat dihubungi detikcom, Sabtu (21/4/2012).
Sementara yang kedua, ciri-ciri yang selama ini disebutkan oleh publik bahwa anggota penyerangan berambut cepak dan adanya bahasa komando, tidak bisa membuktikan keterlibatan anggota TNI AL dalam penyerangan geng motor.
"Ini semakin janggal. saya sudah hampir 30 tahun di TNI AL, sudah hafal betul. Operasi dalam militer itu senyap, dan tanpa bekas. Kok ini bisa ketahuan? Berikutnya lagi kalau dari data itu (berambut cepak dan bahasa komando), pertanyaannya apakah itu hanya tentara atau militer yg seperti itu. Waktu saya hadir di acara ILC di TV One, Itu sekitar kiri kanan saya rambutnya seperti itu. Artinya kalau dari ukuran itu tidak cukup untuk kesimpulan," jelas Untung.
Untung juga menjelaskan, bahasa komando yang digunakan dalam penyerangan geng motor sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam keseharian Angkatan Laut. Penyebutan "ndan", tidak lazim digunakan dalam Angkatan Laut.
"Kemudian istilah komandan, itu sangat jarang anggota menyebut Ndan. Ada sebutan itu, tapi sangat sedikit sekali. Kita menggunakan istilah brur (komandan), tor (mentor), jin (mohon ijin)," pungkas Untung.
(gah/gah)











































