"Karena ini persoalan mengganggu kenyamanan warga, ini perlu diusut agar tidak terulang lagi. Kalau tidak bisa diusut, mungkin kejadian ini bisa terjadi di tempat lain. Tentunya ini tugas kepolisian dan kita percayakan ke polisi," ujar Agung kepada wartawan, Sabtu (21/4/2012).
Adanya bom molotov diketahui ketika Agung melihat api dari balik gorden. Saat itu dirinya dan sejumlah pengurus DKR tengah berbincang santai di ruang rapat. Mereka langsung mematikan api yang sempat membakar sofa dengan kain dan bantal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dugaan bom molotov tidak dilempar melainkan sengaja diletakan karena saksi mata yakni pedagang nasi goreng tidak melihat adanya pelemparan benda ke kantor DKR.
Pedagang itu hanya melihat dua orang berpakaian warna hitam dengan helm tertutup rapat memarkir motornya sekitar pukul 01.30 WIB. Satu orang kemudian masuk ke halaman. "Satu orang langsung masuk ke dalam kantor dan beberapa saat langsung keluar, jadi dikira itu tamu DKR," sebutnya,
Agung mengaku heran dengan teror yang dialamatkan ke kantor DKR. Alasannya DKR memfokuskan kegiatan pada advokasi warga miskin untuk mendapat hak pelayanan kesehatan. DKR juga aktif melakukan penyuluhan yang diberi nama RT Siaga untuk membangun kesadaran warga atas kesehatan di lingkungannya.
"Motif teror kita belum bisa menyimpulkan, apa ada kaitannya dengan Siti (Siti Fadilah Supari, Ketua Dewan Pembina DKR), kita masih tunggu penyelidikan. Kita enggak akan mundur selangkahpun dari isu sosial kemasyarakatan, kita anggap ini gangguan kecil," tuturnya.
Saat ini kantor DKR ramai dengan kedatangan wartawan. Sejumlah pengurus DKR kotamadya pun berdatangan untuk mengetahui kondisi pasca kejadian.
(fdn/gah)











































