Mega: Naik Kijang atau Mercy Monggo, Yang Penting Sampai

Mega: Naik Kijang atau Mercy Monggo, Yang Penting Sampai

- detikNews
Kamis, 19 Apr 2012 17:52 WIB
Mega: Naik Kijang atau Mercy Monggo, Yang Penting Sampai
Kulonprogo - Megawati bicara "otomotif". Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP ini mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kendaraan yang akan digunakannya. Baginya yang penting sampai tujuan dengan selamat.

"Saya tidak suka mobil, mau naik mobil Kijang atau Mercy ya monggo. Yang penting sampai," kata Mega saat memberikan kuliah politik Pendidikan Kader Pendidik Angkatan 3 dan 4 di Gedung Kesenian Wates, Kulonprogo, Kamis (19/4/2012).

Menurut Mega, pada abad 20 dan 21 ini situasi dunia berbeda. Pada abad 20 manusia dipenuhi oleh situasi peperangan politik yang ditandai dengan Perang Dunia (PD) I dan II. Indonesia pun juga merasakan dampak dari peperangan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Abad 21 sekarang ini adalah perang ekonomi yang ditandai dengan rasa gotong royong dan rasa kekeluargaan mulai berkurang atau terkikis. Simbolnya mobil-mobil dan saya tidak suka mobil," kata Mega.

Mega juga mengaku dirinya juga tidak hapal dan mengetahui berbagai jenis mobil. Yang mengetahui mobil miliknya adalah sopir di keluarganya. "Kalau yang tahu mobil itu ya sopir saya," ungkapnya.

Menurut dia, perang perebutan ekonomi itu sudah diperkirakan oleh ayahnya Soekarno sebelum kemerdekaan. Saat ini hingga akhir abad 21 ini bakal terus terjadi perang ekonomi terutama perang perebutan energi fosil atau minyak bumi.

"Negara-negara kaya minyak seperti Libya, Irak dan lain sebagainya sudah digempur oleh negara-negara kaya dari Barat yang tidak punya sumber daya alam namun ingin menguasai dengan cara yang vulgar," kata Mega di hadapan ribuan kader PDIP.

Dia mengatakan saat ini Indonesia pun terkena dampak dari perang memperebutkan sumber-sumber alam. Hal itu ditunjukkan dengan naik harga minyak dunia.

"Jelas kita kena dampaknya. Nilai-nilai kolektivitas kita juga semakin hilang digantikan nilai-nilai individualisme dan pragmatisme. Kami tidak ingin kader PDIP jadi terkikis oleh nilai-nilai kebersamaannya," kata Mega.

(bgs/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads