"Kejadiannya kemarin (Rabu, 18 April) sore pukul 17.00 WIB. Saat dibawa ke rumah sakit sudah meninggal. Jadi kayaknya sudah meninggal pas di jalanan," ujar Kapolsek Cipayung, UA Triyanto, saat dihubungi detikcom, Kamis (19/4/2012).
Menurut Triyanto, seorang satpam dan petugas kebersihan menemukan Edi dalam kondisi terjatuh saat berjalan di depan anjungan Papua. Sebelumnya satpam anjungan Papua tersebut sempat mendengar ada keributan yang terjadi di lantai dua. Namun satpam mengacuhkan suara keributan tersebut. Tak lama usai mendengar suara keributan itu, satpam sudah melihat Edi di lantai 1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah dibawa ke rumah sakit, nyawa Edi sudah tidak tertolong lagi. Istri Edi yang melihat suaminya sudah tak bernyawa itu langsung mengamuk. Istri edi mengaku sebelum meninggal, suaminya sempat menelepon dirinya dan mengatakan kalau Edi sempat dipukul oleh kepala anjungan.
"Istrinya ngomel-ngomel bilang ada apa dengan suami saya. Sudah tahu suami saya ini ada sakit jantungnya, jangan dimarah-marahi," tutur Triyanto menirukan ucapan istri Edi.
Setelah divisum, Edi meninggal karena penyempitan jantung koroner. Di tubuh Edi memang ada beberapa titik bekas luka memar. Namun luka memar tersebut tidak menimbulkan kematian pada Edi.
"Jadi 70 persen itu meninggal karena penyempitan jantung koroner, itu hasil visum," jelasnya.
Triyanto mengatakan hanya ada saksi satpam dan petugas kebersihan di lokasi. Namun keduanya tidak melihat langsung adanya pemukulan yang dilakukan kepala anjungan, Samuel, kepada Edi.
"Istrinya bilang ditelepon oleh suaminya habis dipukul Samuel. Tapi saksi nggak melihat langsung. Lihatnya sudah terjatuh di lantai 1," terangnya.
(gus/)










































