Kenapa Polisi Paris Sulit Ungkap Kasus Teror KBRI?

Kenapa Polisi Paris Sulit Ungkap Kasus Teror KBRI?

Andri Haryanto - detikNews
Rabu, 18 Apr 2012 19:19 WIB
Kenapa Polisi Paris Sulit Ungkap Kasus Teror KBRI?
Jakarta - Bom yang meledak di dekat KBRI Paris pada Rabu (21/3/2012) merupakan peristiwa kedua. Pada tahun 2004, sebuah bom juga pernah meledak di lingkungan yang sama. Namun hingga saat ini polisi setempat belum berhasil mengungkap pelaku dan jaringan teror tersebut. Kenapa?

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen (Pur) Ansyaad Mbai mengatakan, polisi setempat merasa kesulitan karena tidak ada klaim siapa pelaku di balik aksi yang mengejutkan tersebut.

"Belum ada yang klaim bertanggungjawab atas bom itu. Tim kita (BNPT) kaget, kenapa tunggu klaim?" kata Ansyaad saat ditemui detikcom di Jakarta, Rabu (18/4).

Hingga saat ini kepolisian Perancis belum mengetahui pelaku di balik dua ledakan bom di KBRI Paris tersebut.
"Itu kan tergantung keberhasilan polisi di sana. Sampai hari ini polisi belum mengungkap siapa pelakunya," terang Ansyaad.

Menurut Ansyaad, BNPT sempat memberikan bantuan beberapa data terkait aksi teror yang diduga dilakukan oleh jaringan radikal di Perancis dan memiliki keterkaitan dengan jaringan teror di Indonesia. Data tersebut selanjutnya di kroscek dengan data kepolisian Perancis.

Terdapat dua nama warga negara Perancis yang diduga terlibat jaringan teroris di Indonesia, Jean Salvi dan Mustafa yang merupakan warga Perancis keturunan Afrika Utara.

"Hasil kerjasama kita didapatkan komunikasi antara mereka dengan beberapa teroris di kita (Indonesia)," papar Ansyaad.

Lebih lanjut Ansyaad menduga, motif pelaku pemboman di KBRI Paris oleh pelaku adalah memberikan pesan. Belum diketahui bila aksi bom dengan menggunakan tabung gas 13 kg itu untuk melukai.

"Saya melihat itu semacam ingin menyampaikan pesan," katanya.

Indikasi itu terlihat dari waktu yang dimanfaatkan pelaku dalam aksinya dimana pelaku sudah memperkirakan tidak ada yang melintas di titik peletakan bom.

"Serta peletakan bom di tempat yang sama seperti tahun 2004," paparnya.

Sejumlah media Prancis menyebut, pada ledakan 2004, bom diletakkan di depan kantor KBRI, tepatnya di bawah tiang bendera Merah Putih. Sedangkan pada ledakan terakhir, bom semula diletakkan di posisi yang sama.

Tapi oleh petugas kebersihan yang menemukan tas mencurigakan itu pada pukul 5 pagi, tas diungsikan 20 meter dari lokasi pertama. Setelah itu bom meledak dengan mengobarkan api.

Media Prancis, Le Figaro, edisi hari ini menulis, bom tahun 2004 berdaya ledak tinggi dan menyebabkan sejumlah orang luka ringan akibat dampak guncangan bom. Tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan itu dan kasus itu tak terpecahkan.

(ahy/mad)


Berita Terkait