Tokoh militer era Orde Baru, Sudomo tidak hanya membuat sejarah peta politik sosial semata. Tetapi juga menorehkan catatan dalam sejarah pers Indonesia. Meski Sudomo militer tetapi bisa menjadi jembatan kebebasan pers dengan ABRI kala itu.
Hal ini seperti diutarakan mantan Menteri Penerangan Harmoko yang juga dikenal memulai karier sebagai wartawan. Penulis kolom di Pos Kota ini berpendapat, Sudomo berkontribusi dalam membangun kebebasan pers. Sudomo meyakinkan para petinggi militer saat itu tentang pentingnya kebebasan pers.
"Beliau ini sosok yang sangat peduli dengan pers. Jadi pers menurut beliau tidak bisa semena-mena dipanggil, terus beliau juga berbicara supaya pejabat-pejabat dan ABRI memahami kode etik-kode etik jurnalistik," papar Harmoko yang mengenakan batik warna merah ini saat melayat almarhum di rumah duka, Jl Sekolah Kencana, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sosok orang tua dan juga teman yang sangat perhatian. Saya orang terakhir di pesta perkawinan di keluarga Pak Bambang yang dipeluknya. Beliau saat itu terlihat sangat pucat dan terlihat nafasnya tidak normal sehingga dilarikan ke RS," tutur Alwi.
Menapak senja, pelayat yang berdatangan terus bertambah banyak. Sudomo meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Dia merupakan orang kepercayaan Soeharto di masa Orba. Aneka jabatan elite pernah diembannya, seperti Pangkopkamtib yang bertugas memelihara stabilitas, Menaker, Menko Polkam, hingga Ketua DPA. (asp/nrl)











































