Dalam konferensi pers di Medan, Rabu (18/4/2012), KAMG menunjukkan sejumlah bukti kecurangan itu. Antara lembar kertas berisi kombinasi jawaban, baik yang tulisan tangan maupun terketik rapi.
"Temuan kecurangan ini yang terbanyak di Medan, sementara daerah lainnya Serdang Bedagai, Humbang Hasundutan, dan Labuhan Batu," kata Abdi Muskarya Saragih, Ketua KAMG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam ujian Bahasa Inggris itu ada soal ujian yang listening, namun belum lagi diperdengarkan, siswa sudah bisa menjawab sejumlah soal," tukas Abdi.
Kendati menemukan banyak kecurangan dalam UN, namun bukan kecurangan itu yang menjadi pokok perhatian KAMG. Menurut mereka, kecurangan itu sudah menjadi realitas setiap kali UN berlangsung sejak 10 tahun lalu.
"Kecurangan yang terjadi dalam UN ini merupakan akibat langsung dari kebijakan yang tidak strategis. Harusnya UN dihapuskan. Pengakuan terhadap prestasi belajar siswa harusnya melalui ujian yang diselenggarakan sekolah yang terakreditasi, bukan UN yang diselenggarakan pemerintah," ujar Abdi.
(rul/trw)










































